Kisah di Balik Kunjungan Wamenag: Utang Silaturahmi, Pesan Almarhum Bupati, dan Pujian untuk Wakil Wali Kota Medan
MEDAN – Di balik hangatnya jamuan makan siang di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Medan, Jalan Gurilla, Senin (5/10/2026), tersimpan sebuah narasi persahabatan lintas generasi yang penuh makna.
Kunjungan silaturahmi Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI, Romo H.R. Muhammad Syafi’i, kepada H. Zakiyuddin Harahap bukanlah sekadar agenda protokoler, melainkan sebuah “pelunasan utang” moral dan penghormatan kepada sosok almarhum H.M. Saleh Harahap, ayahanda Zakiyuddin.
Pertemuan yang berlangsung penuh kehangatan ini menjadi sorotan karena kedekatan personal yang terjalin lama. Romo, sapaan akrab Wamenag, mengungkapkan bahwa dirinya memiliki ikatan batin yang kuat dengan keluarga Harahap.
Ia mengenang almarhum Saleh Harahap bukan hanya sebagai ulama dan Bupati Tapanuli Selatan periode 2000–2004, tetapi juga sebagai sahabat dan mentor spiritualnya.
“Setiap ada penugasan, saya jemput ayah beliau untuk mengisi pengajian. Begitu terus-menerus. Beliau kemudian menjadi Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1996,” kenang Romo, membuka memori masa lalunya.
Kedekatan itu, menurutnya, teruji ketika almarhum memberikan nasihat berharga saat dirinya diminta menjelaskan materi ceramah di MUI. Nasihat itu menjadi pegangan hingga kini.
Komunikasi sempat merenggang saat almarhum menjabat sebagai Bupati Tapanuli Selatan. Namun, takdir kembali mempertemukan Romo dengan jejak sahabatnya itu.
Setelah mengetahui bahwa sosok yang kini menjabat sebagai Wakil Wali Kota Medan adalah putra dari sahabat lamanya, Romo merasa terpanggil untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang sempat terputus.
“Saya tidak terlalu mengikuti pemilihan Wali Kota Medan karena saat itu konsentrasi di Jakarta. Belakangan saya semakin tahu bahwa ini adalah anak almarhum teman saya. Tentu ada utang juga untuk bersilaturahmi,” ujar Romo dengan tulus.
Kehangatan kian terasa ketika Romo menolak untuk “diwajibkan” datang oleh Zakiyuddin. “Dulu saya tiap hari datang. Masa mentang-mentang anak ini, saya wajibkan pula datang? Saya yang datang,” ujarnya disambut tawa hangat, menunjukkan kerendahan hati seorang pejabat negara.
Lebih dari itu, Romo melontarkan pujian yang menyentuh hati. “Saya cuma bisa bilang terima kasih. Alhamdulillah, nyata anak ustaz. Walaupun tidak jadi ustaz, tetapi kelakuannya seperti ustaz juga,” ucapnya, sebuah apresiasi tertinggi yang mengingatkan publik pada integritas almarhum Saleh Harahap.
Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap, yang didampingi Staf Ahli TP PKK Kota Medan, Martinijal Zakiyuddin Harahap, menyambut kunjungan ini dengan rasa syukur yang mendalam.
“Saya sangat bersyukur. Walaupun beliau sahabat almarhum bapak saya, tetapi beliau seorang Wamen, wakil menteri, yang mau berkunjung ke rumah kita,” ujarnya haru.
Pertemuan ini bukan hanya ajang nostalgia, tetapi juga momentum bagi Zakiyuddin untuk mendapatkan pencerahan dan nasihat langsung dari seorang pemimpin nasional.
Ia mendoakan agar Wamenag senantiasa diberi kesehatan dan terus memberikan dukungan, nasihat, serta perlindungan dalam menjalankan tugas mulia melayani masyarakat Kota Medan.
Kisah silaturahmi ini menjadi pembeda dari sekadar berita politik biasa. Ia menyiratkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga hubungan baik, menghormati jasa orang tua, dan bagaimana nilai-nilai luhur seorang ulama dapat terus hidup melalui generasi penerusnya.
Romo berharap, Zakiyuddin dapat menjalankan amanah dengan baik, mendampingi pemerintahan Kota Medan, dan terus berkontribusi untuk masyarakat, meneruskan jejak kepemimpinan yang telah diwariskan oleh sang ayah. (FD/Rel)