Langkah Revolusioner Bobby Nasution! 2026, 20 Puskesmas di Sumut Naik Kelas Jadi Rawat Inap, Nias Barat Jadi Prioritas

104

MEDAN — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Muhammad Bobby Afif Nasution menggebrak sektor kesehatan dengan menargetkan peningkatan 20 puskesmas menjadi fasilitas rawat inap pada tahun 2026.

Keputusan ini bukan sekadar renovasi gedung, melainkan napas baru bagi masyarakat di pelosok yang selama ini berjibaku dengan jarak dan keterbatasan akses kesehatan.

Bayangkan, seorang ibu hamil harus menempuh perjalanan hingga dua jam hanya untuk mencapai rumah sakit terdekat. Atau anak demam tinggi yang harus berguncang di jalan rusak sejauh puluhan kilometer. Inilah realitas yang selama ini dihadapi warga di daerah terpencil Sumatera Utara.

Bobby Nasution memahami betul persoalan ini. “Puskesmas yang jaraknya lebih dari 30 kilometer dari rumah sakit kita dorong menjadi Puskesmas rawat inap. Program ini sudah kita siapkan dan dipercepat mulai tahun ini,” tegasnya.

Program yang sebelumnya direncanakan bergulir pada 2027 ini dimajukan setahun lebih cepat berkat dukungan bantuan dari pemerintah pusat.

Dari 20 puskesmas yang ditingkatkan, Puskesmas Mandrehe di Kabupaten Nias Barat menjadi prioritas utama. Bukan tanpa alasan.

Puskesmas ini menjadi satu-satunya gerbang kesehatan bagi sekitar 23 ribu jiwa yang tersebar di 20 desa. Jarak ke rumah sakit daerah mencapai 60 kilometer setara dengan perjalanan 1,5 hingga 2 jam di medan yang tak selalu bersahabat.

Baca Juga : Temukan Pasien Jantung di Puskesmas, Bupati Simalungun Langsung Evakuasi ke RSUD Perdagangan

Saat ini, Puskesmas Mandrehe hanya memiliki dua tempat tidur dengan fasilitas yang sangat terbatas. Tahun ini, kapasitasnya akan ditingkatkan menjadi 10 tempat tidur rawat inap, dilengkapi ruang persalinan, tenaga dokter, dan peralatan kesehatan yang lebih memadai.

“Kemarin Bapak Presiden sudah membangun rumah sakit daerah di sini, sangat bagus sekali. Kami dari pemerintah provinsi menafsirkan salah satu program presiden di bidang kesehatan, jadi kami coba membenahi puskesmas-puskesmas biar nggak semua masyarakat ke rumah sakit karena salah satu kendalanya adalah aksesnya,” ujar Bobby usai meninjau langsung Puskesmas Mandrehe, kemarin

Peningkatan puskesmas tak akan bermakna tanpa tenaga kesehatan yang kompeten. Pemprov Sumut menggandeng Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program beasiswa dokter spesialis.

Tahun lalu, 16 dokter memperoleh beasiswa ikatan dinas. Tahun ini, 5 kuota khusus dialokasikan untuk putra-putri terbaik dari Kepulauan Nias.

Untuk mengisi kekosongan saat para dokter menempuh pendidikan spesialis, Pemprov Sumut menerapkan sistem rotasi dokter dari RSUD ke puskesmas.

“Termasuk kerja sama dengan USU dan UGM, di mana dokter residen mereka intensif ada di sini, jadi bisa saling rotasi,” jelas Bobby.

Langkah ini merupakan bagian dari Program Transformasi Puskesmas Rawat Inap Plus Layanan Spesialistik Sumut Berkah yang menyasar 17 kabupaten dengan 21 puskesmas terpilih.

Transformasi ini mencakup sarana prasarana, alat kesehatan, SDM, tata kelola layanan, sistem rujukan, hingga telemedisin bukan sekadar pembangunan fisik gedung.

Program ini akan menghadirkan 8 paket layanan unggulan terstandarisasi, termasuk layanan ibu hamil berisiko, persalinan normal, gizi klinis, hingga penanganan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.

“Ini Pak Bupati Nias Barat mengusulkan di sini, mudah-mudahan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,” harap Bobby Nasution.

Inilah wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat. Bukan sekadar janji, tapi aksi. Bukan sekadar program, tapi penyelamatan nyawa. (Rel)