DPRD Medan Desak Dispora Inventarisasi Dojo Wadokai: Atlet Tersebar di 21 Kecamatan, Namun Terlupakan!
MEDAN – Ketika bicara soal potensi olahraga di Kota Medan, namanya bukan hanya sepak bola atau bulu tangkis. Karate, khususnya perguruan Wadokai, menyimpan kekuatan luar biasa yang selama ini seolah berjalan di tempat.
Menyadari potensi besar yang terabaikan, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan kini mengambil langkah nyata dengan meminta Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) untuk segera bertindak.
Anggota DPRD Medan mendesak Dispora agar melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap seluruh Dojo Wadokai yang tersebar di berbagai penjuru kota. Langkah ini dinilai krusial sebagai fondasi awal pembinaan yang serius.
“Kami minta Dispora bersama para camat untuk segera menginventarisasi seluruh Dojo Wadokai di Kota Medan. Ini adalah langkah awal yang mutlak diperlukan agar perhatian Pemko Medan terhadap cabang olahraga ini bisa berjalan terarah,” tegas Binsar Simarmata, Sekretaris Fraksi PAN Perindo DPRD Kota Medan, usai menggelar pertemuan dengan pengurus Pengcab Wadokai Medan di ruang fraksinya, Senin (30/3/2026).
Pertemuan yang berlangsung hangat itu dihadiri jajaran pengurus Pengcab Wadokai Medan, yakni Plt Ketua Mula Eka Tamba, Sekretaris Edy Darwan, Bendahara Ridha Efrianata, serta Marhaum Tamba. Dalam dialog tersebut, terungkap sebuah fakta mengejutkan meski memiliki basis massa yang besar, Wadokai justru kerap “disingkirkan” dalam even-even resmi kota.
Dojo Tersebar, Namun Minim Sentuhan
Mula Eka Tamba, Plt Ketua Pengcab Wadokai Medan, membeberkan data mengejutkan. Saat ini, Dojo Wadokai telah hadir di seluruh kecamatan se-Kota Medan dengan total murid mencapai 1.000 orang. Ini adalah modal sosial dan bakat yang sangat besar.
“Namun, ironisnya, ketika ada event olahraga bergengsi seperti Porkot (Pekan Olahraga Kota) Medan, atlet-atlet kami seolah tak pernah dianggap. Kami tidak pernah dilibatkan. Seharusnya, KONI Kecamatan melakukan seleksi secara terbuka, mengundang semua perguruan karate, bukan hanya kalangan tertentu,” ujar Mula Eka Tamba dengan nada prihatin.
Keluhan ini menjadi titik kritis. Pembinaan yang tidak terstruktur dan minimnya ruang berkompetisi membuat potensi atlet binaan Wadokai terhambat. Padahal, dengan jumlah dojo yang merata hingga ke tingkat kecamatan, Wadokai memiliki ekosistem yang ideal untuk menjaring bibit-bibit unggul atlet karate.
Inventarisasi: Bukan Sekadar Data, Tapi Harapan
Menanggapi hal tersebut, Binsar Simarmata yang juga merupakan anggota Komisi II DPRD Medan (bidang kepemudaan dan olahraga) menegaskan bahwa inventarisasi yang diminta harus dilakukan secara menyeluruh dan tertata.
Bukan hanya mencatat lokasi, tetapi juga sarana dan prasarana dojo, termasuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pelatih dan atletnya.
“Dengan inventarisasi yang baik, Dispora bisa melihat peta sebenarnya. Di mana kekuatan kita? Apa yang kurang? Ini akan memotivasi atlet. Jika perhatian ini terealisasi, potensi atlet Wadokai bisa dikembangkan secara maksimal. Pembinaan akan terstruktur, dan prestasi olahraga Medan, baik di tingkat nasional maupun internasional, pasti akan meningkat,” pungkas Binsar.
DPRD Medan pun berharap agar setelah inventarisasi rampung, Pemerintah Kota Medan melalui Dispora segera merangkul Pengcab Wadokai dalam setiap program pembinaan, serta memastikan keterwakilan mereka dalam Porkot dan ajang lainnya.
Isu ini menjadi perhatian serius mengingat pembinaan olahraga yang inklusif adalah kunci untuk mencetak atlet berprestasi yang mengharumkan nama Medan.
Dengan langkah inventarisasi ini, publik berharap tidak ada lagi nama besar olahraga Medan yang “tersembunyi” hanya karena kurangnya data dan komunikasi antara pengurus dan pemerintah. Wadokai siap memberikan yang terbaik, asal pintu kesempatan dibuka lebar. (Rel)