Perang Timur Tengah Meluas: AS-Israel Vs Iran, 9 Negara Arab Terseret! Selat Hormuz Ditutup
JAKARTA – Konflik besar pecah di Timur Tengah! Serangan balasan Iran atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel akhir pekan lalu kini memicu perang regional.
Rudal dan drone Tehran tidak hanya menghantam Israel, tetapi juga menghujani pangkalan militer dan fasilitas AS di negara-negara Arab. Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, resmi ditutup. Bagaimana situasi terkini di 9 titik panas pada Selasa (3/3/2026)? Simak rangkumannya.
Bahrain: Pangkalan Armada Kelima AS Dihantam
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi serangan besar-besaran ke Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Pangkalan ini dikenal sebagai markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.
· Kronologi: Serangan dilakukan subuh hari menggunakan 20 drone dan tiga rudal balistik.
· Target: Pasukan elit Iran mengklaim telah menghancurkan “markas komando utama” pangkalan tersebut. Ini adalah pertama kalinya pangkalan utama AS di Bahrain menjadi target langsung sejak eskalasi dimulai.
Arab Saudi: Diplomatik dan Pangkalan Udara Diserang
Kerajaan Saudi yang selama ini berusaha netral, ikut terseret.
· Kedutaan AS di Riyadh: Dua drone menargetkan gedung Kedutaan AS, memicu kebakaran kecil dan kerusakan material. Ledakan terdengar keras di kawasan diplomatik yang dijaga ketat.
· Pertahanan Saudi: Kementerian Pertahanan mengonfirmasi berhasil mencegat 8 drone di dekat Riyadh dan kota Al-Kharj. Pasca serangan, Kedutaan AS mengeluarkan perintah “shelter in place” untuk warganya di Riyadh, Jeddah, dan Dhahran.
Qatar: Pusat Komando CENTCOM Diserang Rudal
Doha, yang menjadi tuan rumah pangkalan milter Al-Udeid (pusat komando CENTCOM AS), dilaporkan menjadi sasaran rudal balistik.
· Insiden: Militer Qatar mencegat dua rudal balistik pada Selasa pagi. Ledakan keras sempat terdengar di ibu kota Doha sebelum sistem pertahanan udara bekerja.
Baca Juga : Perang AS-Israel Vs Iran Meluas, Negara Teluk Terjebak di Persimpangan
· Pernyataan Resmi: Kementerian Pertahanan Qatar menegaskan ancaman berhasil “dinetralisir segera setelah terdeteksi”.
Irak & Lebanon: Serangan ke Pangkalan dan Media
Front perlawanan pro-Iran di Irak dan Lebanon juga meningkatkan aksi mereka.
· Erbil, Irak: Kelompok Perlawanan Islam di Irak (koalisi milisi Syiah) mengaku bertanggung jawab atas serangan “kawanan drone” ke sebuah hotel yang menampung pasukan AS di Erbil. Sejak Minggu, mereka mengklaim telah meluncurkan puluhan drone ke pangkalan AS di Irak dan Suriah.
· Beirut, Lebanon: Jet tempur Israel menghantam gedung kantor berita Al-Manar TV di kawasan Haret Hreik, Beirut selatan. Al-Manar adalah media resmi Hizbullah, sekutu utama Iran.
UEA: Pangkalan Militer Australia Terbakar
Untuk pertama kalinya, serangan mencapai Uni Emirat Arab.
· Target: Pangkalan Udara Al Minhad, dekat Dubai, yang digunakan oleh militer Australia sebagai pusat persiapan operasi.
· Klarifikasi: Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, mengonfirmasi serangan drone Iran terjadi pada akhir pekan. “Tidak ada personel Australia yang terluka dan semua dalam keadaan aman,” ujarnya. Namun, ini menandai eskalasi karena UEA selama ini dianggap sebagai “oasis” keamanan di Teluk.
Iran: Ibu Kota Juga Diserang
Tehran tidak luput dari serangan balik.
· Target: Markas besar penyiaran pemerintah IRIB di Teheran menjadi sasaran. Tentara Israel mengklaim telah “menghancurkan” pusat komunikasi yang mereka sebut sebagai sarang propaganda rezim.
· Dampak: Dua ledakan dilaporkan terjadi di dekat markas IRIB. Meski demikian, penyiar pemerintah memastikan siaran mereka tidak terputus.
Ancaman Trump: “Perang Bisa Lebih dari Sebulan”
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa kampanye militernya terhadap Iran mungkin berlangsung lebih dari satu bulan, seiring dengan perluasan target ke fasilitas minyak di negara-negara Teluk. Sementara itu, militer Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon, memicu kekhawatiran perang dua front.
Dengan ditutupnya Selat Hormuz, harga minyak diprediksi melonjak dan krisis kemanusiaan mengancam jutaan warga di kawasan. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Tehran dan Washington. (FD)