Malam Nuzulul Qur’an di Medan: Wali Kota Rico Waas Ajak Warga Jadi Insan Qurani di Tengah Gemerlap Ramadan Fair
MEDAN – Gemerlap lampu Ramadan Fair di Taman Sri Deli tiba-tiba terasa meredup, berganti dengan cahaya spiritual yang jauh lebih terang.
Ribuan umat Muslim memadati area tersebut pada Sabtu (7/3/2026) malam, bukan untuk berburu takjil atau belanja, melainkan untuk menyelami lautan hikmah dalam peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H yang digelar Pemerintah Kota Medan.
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas Ramadan yang kerap didominasi urusan kuliner, Pemko Medan menghadirkan oase iman yang menyentuh relung hati.
Taman Sri Deli berubah menjadi saksi bisu ribuan mata yang berkaca-kaca dan hati yang bergetar mendengar lantunan ayat suci yang dilantunkan dengan merdu, mengawali rangkaian acara peringatan malam bersejarah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
Wali Kota Medan, Rico Waas, tampil dengan balutan busana Muslim berwarna putih, duduk bersimpuh di barisan terdepan. Kedatangannya bukan sekadar seremonial belaka.
Di hadapan ribuan jamaah yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari Ketua DPRD Medan Wong Chun Sen, Wakil Ketua DPRD Zulkarnaen, Sekda Wiriya Alrahman, Kakan Kemenag Impun Siregar, Wakil Ketua MUI Sumut KH Zulfikar Hajar, hingga para alim ulama dan Forkopimda, Rico Waas menyampaikan pesan yang menggugah.
Baca Juga : Wagub Sumut: Jadikan Alquran Pedoman Reformasi Birokrasi di Era Digital
“Di pertengahan Ramadan yang penuh berkah ini, kita memperingati malam yang sangat spesial. Bukan hanya karena kita berkumpul, tapi karena 14 abad lalu, di malam seperti inilah pintu langit terbuka membawa cahaya bagi seluruh alam,” ujar Rico Waas membuka sambutan dengan penuh penghayatan.
Dengan gaya bicara yang lugas namun menyentuh, Wali Kota termuda di Medan ini mengajak masyarakat untuk tidak sekadar memperingati, tetapi merefleksikan esensi terdalam dari peristiwa Nuzulul Qur’an. Ia mengingatkan bahwa wahyu pertama yang turun adalah Iqra (Bacalah).
“Bayangkan, perintah pertama bukan ‘shalatlah’ atau ‘berpuasalah’, tapi ‘bacalah’. Ini pesan luar biasa bahwa Islam dibangun di atas pondasi ilmu. Melalui Al-Qur’an, kita diajak membaca alam semesta, membaca diri sendiri, dan membaca kehidupan sosial,” paparnya dengan semangat.
Rico Waas menekankan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang diletakkan di rak tinggi dan berdebu.
Ia adalah manual book kehidupan yang mencakup seluruh aspek, dari spiritualitas, muamalah, hingga nilai-nilai kemanusiaan.
“Jangan biarkan Al-Qur’an hanya menjadi hiasan di rumah kita. Mari jadikan ia sebagai kompas kehidupan. Bacalah setiap hari, pahami maknanya, dan yang terpenting, aplikasikan dalam perilaku kita sehari-hari. Jika itu kita lakukan, insyaallah kita akan menjadi insan Qurani, pribadi yang hidupnya selalu dalam bingkai nilai-nilai Al-Qur’an,” ajaknya, disambut lantunan shalawat dari ribuan jamaah yang hadir.
Rico Waas berharap, dengan semangat Nuzulul Qur’an ini, Kota Medan dapat menjelma menjadi kota yang penuh keberkahan, kota yang penduduknya ramah, jujur, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an.
Suasana semakin haru ketika Ustad Muhammad Hafiz Salim naik ke mimbar untuk menyampaikan tausiyah. Dengan suara berat dan penuh kelembutan, ia mengajak jamaah merenungkan akhlak Rasulullah SAW yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai pribadi yang agung.
“Rasulullah adalah Al-Qur’an yang berjalan. Semua akhlak beliau adalah cerminan dari isi Al-Qur’an. Kalau kita ingin hidup tenang, bahagia, dan terarah, tidak ada contoh yang lebih sempurna selain Rasulullah,” tuturnya.
Ustad Hafiz juga menyentuh satu topik yang membuat suasana semakin syahdu berbakti kepada kedua orang tua. Di sela-sela tausiyahnya, ia meminta seluruh jamaah yang masih memiliki orang tua untuk menengok ke kanan dan kiri, membayangkan wajah ibu dan ayah di rumah.
“Jangan pernah lelah berbakti. Jangan kau katakan ‘ah’ pada mereka. Surga ada di telapak kaki ibu. Di bulan yang suci ini, perbanyak doa untuk mereka. Jika orang tua kita sudah tiada, jangan putus sedekah dan doa untuk mereka. Itulah bentuk cinta abadi yang diajarkan Al-Qur’an,” pesannya, membuat beberapa jamaah terlihat menyeka air mata.
Ustad Hafiz mengakhiri tausiyahnya dengan pesan mendalam, “Jika kita mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman, hati yang gersang akan menjadi subur, jiwa yang resah akan menemukan ketenangan, dan kehidupan yang kacau akan menjadi terarah. Jadikan Ramadan ini sebagai titik balik kita kembali kepada Al-Qur’an.”
Malam semakin larut, namun jamaah masih bergeming. Gemerlap Ramadan Fair di sekitar lokasi seolah menjadi latar yang sempurna, mengingatkan bahwa di tengah gemerlap dunia, manusia tetap membutuhkan cahaya Al-Qur’an untuk menerangi jalan pulang menuju Sang Pencipta.
Peringatan Nuzulul Qur’an di Taman Sri Deli bukan sekadar acara tahunan, melainkan momentum kolektif warga Medan untuk berbenah dan berikrar menjadikan Al-Qur’an sebagai lentera kehidupan. (Rel)