Iran Dipaksa Langsung Tinggalkan AS usai Tanding Lawan Selandia Baru, Pelatih: Kami Tim Paling Tertindas!

134

JAKARTA – Drama tak hanya terjadi di atas lapangan bagi Timnas Iran di Piala Dunia 2026. Setelah berhasil menahan imbang Selandia Baru 2-2 dalam laga pembuka Grup G yang dramatis, skuad Team Melli justru harus menghadapi kejutan pahit di luar stadion.

Mereka dipaksa untuk segera meninggalkan Amerika Serikat hanya beberapa jam setelah pertandingan usai, tanpa diberi kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan kondisi.

Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, meluapkan kekecewaannya dengan menyebut timnya sebagai “tim paling tertindas” sepanjang sejarah Piala Dunia.

Awalnya, Iran merencanakan untuk menginap di California, AS, pada Senin malam waktu setempat (Selasa pagi WIB) untuk menjalani proses pemulihan usai pertandingan melawan Selandia Baru di SoFi Stadium, Inglewood.

Rencana selanjutnya, mereka akan kembali ke kamp latihan mereka di Tijuana, Meksiko, pada Selasa siang.

Namun, semua rencana itu buyar. Begitu peluit akhir dibunyikan, tim justru menerima instruksi tegas: mereka harus segera naik pesawat dan meninggalkan AS malam itu juga.

“Kami menghabiskan begitu banyak waktu di udara untuk perjalanan pulang pergi. Mereka bahkan tidak memberi kami waktu untuk beristirahat,” ujar Ghalenoei melalui penerjemah, seperti dilansir ESPN.

“Setelah pertandingan hari ini, mereka berkata kepada kami, ‘Kalian harus segera pergi.'”

Baca Juga : Gila! Dua Kali Unggul, Selandia Baru Dipaksa Rungkad 2-2

Ghalenoei tidak menyembunyikan kekecewaannya. Baginya, perlakuan ini melampaui batas kewajaran bagi sebuah tim yang baru saja bertarung habis-habisan di atas lapangan.

“Pemulihan itu sangat penting bagi kami. Tapi kami malah disuruh naik pesawat dan kembali ke kamp di Tijuana. Kami benar-benar terganggu oleh hal ini,” keluhnya.

“Saya pikir mungkin tim kami adalah tim yang paling tertindas di seluruh Piala Dunia,” tegas Ghalenoei. “Federasi kami tidak ada di sini, media kami tidak ada, manajemen kami juga tidak ada.”

Situasi yang dialami Iran bukanlah insiden tunggal. Tim ini telah menghadapi rentetan masalah sejak jauh hari sebelum turnamen dimulai.

1. Perpindahan Kamp Latihan Mendadak

Awalnya, Iran direncanakan berkamp di Tucson, Arizona, AS. Namun, karena kendala visa dan masalah keamanan terkait perang yang melibatkan AS dan Israel, FIFA menyetujui pemindahan kamp latihan ke Tijuana, Meksiko, pada akhir Mei. Ini berarti Iran harus bolak-balik melintasi perbatasan untuk setiap pertandingan yang digelar di AS.

2. 15 Staf Ditolak Visanya

Yang lebih memprihatinkan, 15 anggota official dan staf pendukung Iran ditolak visa masuk ke AS.

Termasuk di dalamnya adalah Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, serta sejumlah pelatih pendukung dan petugas media. Iran menuduh AS melakukan “intervensi politik yang bias dalam olahraga” atas penolakan visa ini.

3. Perjalanan yang Melelahkan

Kapten Iran, Mehdi Taremi, mengungkapkan bahwa perjalanan dari Tijuana ke Los Angeles yang seharusnya hanya beberapa jam, berlangsung sekitar lima jam karena prosedur imigrasi yang rumit. “Segalanya seperti bencana bagi kami,” keluh Taremi.

Ghalenoei mengaitkan masalah logistik ini dengan performa tim di lapangan. Ia mengungkapkan bahwa beberapa pemainnya mengalami kram selama pertandingan melawan Selandia Baru.

“Sebelum pertandingan, saya bilang kami tidak punya waktu untuk menyesuaikan diri karena perjalanan ini. Banyak pemain kami yang kram, dan itu sebabnya kami harus melakukan pergantian pemain. Itu bukan karena alasan teknis, tapi karena cedera dan kram,” jelas Ghalenoei.

Meski diliputi masalah, Iran bermain dengan semangat tinggi. Mereka dua kali tertinggal dan dua kali menyamakan kedudukan lewat gol Ramin Rezaeian dan Mohammad Mohebbi.

Hasil imbang 2-2 ini diraih di hadapan 70.108 penonton yang mayoritas mendukung Iran.

Pelatih Ghalenoei mengapresiasi dukungan suporter: “Ada banyak orang Iran di sini dengan afiliasi politik dan keyakinan berbeda, tapi mereka semua dengan sepenuh hati mendukung kami.”

Presiden FIFA, Gianni Infantino, bahkan mengunjungi ruang ganti Iran usai pertandingan untuk memberikan dukungan moral. “Kalian lebih kuat dari segalanya,” kata Infantino kepada para pemain.

Namun, Taremi tetap mendesak FIFA untuk berbuat lebih banyak: “Saya pikir FIFA harus membantu kami lebih dari ini.”

Iran masih harus kembali ke AS untuk dua pertandingan Grup G berikutnya:

· Vs Belgia di SoFi Stadium, 21 Juni
· Vs Mesir di Seattle, 27 Juni

Pertanyaannya, apakah drama serupa akan terulang lagi?

Kisah Timnas Iran di Piala Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa sepak bola tak bisa sepenuhnya lepas dari realita geopolitik.

Perjuangan mereka di atas lapangan berbanding lurus dengan perjuangan di luar lapangan untuk sekadar mendapatkan perlakuan yang adil. Satu hal yang pasti, semangat Team Melli untuk tetap bertarung patut diacungi jempol. (Red)