Jejak Langkah Wakil Gubernur di Nias: Mengupas Tuntas Pembangunan Bronjong Jalan Miga-Lolowua dan Strategi Pemerataan Sumut

127

GUNUNGSITOLI – Di balik gemerlap pembangunan di pusat kota, perjuangan pemerataan infrastruktur sering kali terletak di pelosok negeri. Kali ini, sorotan tertuju pada Kepulauan Nias.

Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, memastikan pembangunan bronjong di ruas jalan provinsi Miga-Lolowua, Kota Gunungsitoli, berjalan sesuai rencana.

Peninjauan yang dilakukan pada Jumat (24/7/2026) ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah bagian dari agenda bersejarah “Berkantor di Kepulauan Nias” yang dicanangkan Gubernur Bobby Nasution.

Ini adalah kali pertama dalam 78 tahun sejarah Sumut, seorang gubernur dan wakil gubernur secara bergantian berkantor langsung di wilayah kepulauan untuk memastikan pembangunan tidak hanya janji.

“Saya ke sini menjalankan tugas dari Pak Gubernur, untuk memastikan pekerjaan pembangunan jalan sesuai perencanaan,” ujar Wagub Surya.

Ruas Miga-Lolowua adalah jalur strategis yang menghubungkan Kota Gunungsitoli dengan Kabupaten Nias Barat. Selama bertahun-tahun, jalan ini mengalami kerusakan berat akibat bencana longsor yang kerap memutus akses warga.

Baca Juga : Bobby Cetak Sejarah: Gubernur Pertama yang Berkantor di Nias, Gebrakan Nyata Akhiri Keterisolasian 78 Tahun!

Dengan sembilan titik longsor yang teridentifikasi, infrastruktur ini menjadi prioritas utama.

Pemerintah Provinsi Sumut bergerak cepat membangun bronjong. Anggaran yang digelontorkan untuk proyek ini mencapai Rp6,2 miliar. Sebagai perbandingan, total anggaran Pemprov Sumut untuk perbaikan enam ruas jalan di Nias mencapai Rp165 miliar.

Wagub Surya menjelaskan bahwa pembangunan bronjong berfungsi ganda: sebagai pondasi sekaligus penahan beban jalan. Dengan konstruksi anyaman batu yang kokoh, bronjong efektif mencegah longsor susulan dan melindungi badan jalan dari tergerus air hujan.

Target penyelesaian proyek ini adalah tiga bulan ke depan. “Kalau sudah ada penetapan waktunya, segera selesaikan sesuai jadwal. Karena jalan ini penting dan dibutuhkan masyarakat,” tegas Surya.

Konektivitas antardaerah di Kepulauan Nias adalah kunci untuk menggerakkan roda ekonomi. Akses yang mulus antara Gunungsitoli dan Nias Barat akan memperlancar distribusi logistik, menurunkan biaya transportasi, dan membuka isolasi wilayah.

“Prinsipnya kita ingin pembangunan infrastruktur ini tepat waktu. Sebagaimana pesan Pak Gubernur pada agenda Berkantor di Kepulauan Nias untuk memastikan pembangunan berjalan optimal, dan wilayah ini tidak lagi masuk kategori tertinggal,” pungkas Surya.

Saat ini, empat kabupaten di Kepulauan Nias masih berstatus daerah tertinggal. Kehadiran negara melalui proyek ini adalah bukti nyata bahwa pemerataan pembangunan bukan sekadar wacana, tetapi aksi konkret di lapangan.

Dengan pengawasan ketat dari Dinas PUPR serta tim konsultan PT Miko Yova KSO CV Laura, proyek ini diharapkan menjadi model bagi penanganan infrastruktur di wilayah rawan bencana lainnya.

Jalan Miga-Lolowua bukan hanya tentang aspal dan bronjong, tetapi tentang menghubungkan harapan masyarakat Nias dengan masa depan yang lebih cerah. (Rel)