Wagub Surya Buka Pintu Lebar Investasi Belgia di Sumut
MEDAN — Sebuah pertemuan yang berpotensi mengubah peta ekonomi Sumatera Utara terjadi di ruang kerja Gubernur Sumut, Senin (24/8/2026).
Wakil Gubernur Surya menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Belgia untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, David Jordens. Di balik kemasan diplomatik yang hangat, tersimpan agenda strategis: membuka keran investasi bernilai miliaran dolar dari negeri Eropa Barat ke Bumi Tanah Deli.
Pertemuan yang berlangsung di Jalan Diponegoro Nomor 30 ini bukan sekadar seremonial. Surya menegaskan komitmen Pemprov Sumut menciptakan iklim investasi yang aman dan nyaman bagi para investor asing.
“Saya rasa banyak yang bisa kita kembangkan bersama karena Sumut memiliki potensi yang sangat besar, dan kami memastikan investasi yang aman dan nyaman untuk membangun daerah kami,” ujar Surya.
Menariknya, hubungan ekonomi Belgia-Sumut bukanlah hal baru. Sejarah mencatat, Adrien Hallet, seorang berkebangsaan Belgia, adalah perintis budidaya kelapa sawit komersial pertama di Indonesia pada 1911, tepatnya di Pulau Raja (Asahan) dan Sungai Liput.
Bahkan pabrik pengolahan sawit pertama di Sumatera Timur pada 1922 juga berasal dari investasi Belgia. Kini, setelah lebih dari seabad, roda sejarah berputar kembali—kali ini dengan skala yang lebih besar dan visi yang lebih modern: keberlanjutan.
Duta Besar Jordens menunjukkan ketertarikan mendalam pada sektor perkebunan kelapa sawit Sumut. Namun pendekatannya berbeda.
“Sekarang kita sudah berpikir bagaimana sawit bisa menghasilkan lebih banyak dengan lahan yang ada, bukan menambah luas lahannya,” tegas Jordens.
Pernyataan ini selaras dengan tantangan global saat ini. Sumatera Utara adalah provinsi penghasil sawit terbesar kedua di Indonesia setelah Riau.
Belgia sendiri telah memiliki jejak panjang di sektor ini melalui SIPEF (Société Internationale de Plantations et de Finance), grup agribisnis Belgia yang berkomitmen pada produksi komoditas tropis berkelanjutan.
Kolaborasi yang diusung Jordens adalah peningkatan produktivitas melalui teknologi dan praktik berkelanjutan sebuah terobosan yang bisa menjadi model bagi perkebunan sawit nasional.
Sektor lain yang tak kalah menarik adalah olahraga dan teknologinya. Jordens menyoroti kompleks fasilitas olahraga berstandar internasional yang dimiliki Sumut sebagai peluang emas.
Belgia, melalui perusahaan seperti Sports & Leisure Group dan TenCate Grass, adalah pemimpin global dalam produksi rumput sintetis berkualitas tinggi untuk stadion sepak bola, hoki, dan tenis.
“Bukan cuma terkait atlet, tetapi juga teknologi olahraga, kami memiliki banyak perusahaan olahraga seperti penyedia dan pengelolaan rumput lapangan, pencahayaan, desain. Bila ada business matching, saya akan bawa investor ke sini,” kata Jordens.
Bayangkan jika stadion-stadion di Sumut dilengkapi dengan teknologi rumput sintetis berstandar UEFA atau sistem pencahayaan seperti yang digunakan di Stadion Santiago Bernabéu. Ini bukan sekadar peningkatan infrastruktur, tapi juga potensi besar bagi industri pariwisata olahraga dan pengembangan bakat atlet lokal.
Peluang investasi ini semakin realistis mengingat Sumut telah memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang terintegrasi dengan Pelabuhan Kuala Tanjung.
Hingga kuartal I 2026, Sei Mangkei telah menarik investasi kumulatif mencapai Rp 31,8 triliun dan menciptakan 14.689 lapangan kerja.
Dengan infrastruktur yang matang dan komitmen pemerintah, Sumut siap menjadi pintu gerbang investasi Belgia di Asia Tenggara. (Rel)