MEDAN – Tragedi maut kembali menghantui jalur transportasi darat Sumatera. Hanya berselang sepekan setelah bus PT Antar Lintas Sumatera (ALS) merenggut belasan nyawa di Sumatera Selatan, giliran Bus Halmahera yang terguling di Tol Medan-Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Senin (11/5/2026). Empat orang tewas, puluhan luka-luka.
Insiden ini memicu sorotan tajam dari Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Sumatera Utara. Kepala Dishub Sumut, Yuda Pratiwi Setiawan, mengungkapkan rasa duka sekaligus kekhawatiran serius atas rentetan kecelakaan bus maut dalam waktu berdekatan.
“Kami sangat prihatin. Setelah kejadian ALS, kini Bus Halmahera memakan korban empat meninggal dan lainnya luka-luka,” ujar Yuda, Selasa (12/5/2026).
Kronologi Mencekam di Tol Sergai
Kasat PJR AKBP Dhery Fajariandono menjelaskan, nahas bermula saat Bus Halmahera melaju dari arah Tebing Tinggi menuju Medan. Di tengah perjalanan, sebuah mobil pickup L300 terpaksa berhenti di bahu jalan karena as roda belakangnya patah.
Namun, saat mendekati lokasi, Bus Halmahera yang melaju dengan kecepatan sedang tiba-tiba hilang kendali, oleng, lalu terguling di pinggir jalan tol di kawasan Serdang Bedagai (Sergai).
Akibatnya, empat orang tewas di tempat dan 19 lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Peristiwa ini langsung menyulut pertanyaan besar: mengapa kecelakaan bus terus berulang?
Dishub Sumut Buka Suara: Operator Harus Lebih Peka!
Yuda Pratiwi menegaskan, para operator bus wajib melakukan evaluasi total. Jangan hanya mengejar setoran, tapi mengabaikan keselamatan.
“Sesuai arahan Bapak Gubernur, kami imbau operator bus di Sumut untuk memeriksa kendaraan secara berkala. Layak tidak unit itu dioperasikan?” tegasnya.
Tak hanya itu, faktor sumber daya manusia (SDM), terutama sopir, menjadi kunci utama. Yuda meminta perusahaan memeriksa kondisi kesehatan pengemudi, memastikan bebas narkoba, dan memiliki jam istirahat cukup agar penumpang selamat sampai tujuan.
“Jangan sampai sopir dalam kondisi kelelahan atau sakit. Ini nyawa manusia,” tambahnya.
Langkah preventif lain yang ditekankan Dishub Sumut adalah pengurusan izin rutin. Perusahaan diminta proaktif memperpanjang izin angkutan yang habis masa aktifnya.
“Dengan izin yang terupdate, kami dari Dishub provinsi bisa memantau lebih detail kesiapan armada di lapangan,” jelas Yuda.
Bandingkan dengan Tragedi ALS: 18 Korban Masih Diidentifikasi
Publik masih belum pulih dari duka kecelakaan bus ALS rute Semarang-Medan di Sumsel pekan lalu. Insiden itu menewaskan 18 orang, yang hingga hari ini proses identifikasi jenazah masih berlangsung.
Kini, dengan jatuhnya korban jiwa lagi oleh Bus Halmahera, masyarakat mendesak pemerintah provinsi untuk menginspeksi mendadak semua armada bus antar kota. Tidak boleh ada kelonggaran, apalagi di musim mudik atau liburan panjang.
Kecelakaan beruntun ini menjadi alarm keras bagi ekosistem transportasi publik Sumatera. Keselamatan tidak bisa ditawar. Operator, sopir, dan regulator harus bergandengan tangan. Satu nyawa yang hilang karena kelalaian adalah tanggung jawab bersama.
Pantau terus informasi terbaru seputar kecelakaan bus, imbauan Dishub, dan tips aman berkendara hanya di portal berita tepercaya. Jangan biarkan tragedi serupa terulang lagi. (FD)