MEDAN – Siapa bilang cegah bencana cuma pakai teknologi dan tanggul beton? Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, punya jurus jitu lain: pengajian keliling sebulan sekali.
Bukan sekadar rutinan, ini ikhtiar spiritual memohon perlindungan Allah SWT dari banjir, longsor, hingga gempa.
Minggu (14/6/2026), di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Bobby melantik Pengurus LPTQ Sumut periode 2026-2030 dan Dewan Hakim MTQ ke-40 Sumut. Di panggung itu, ia melontarkan gagasan brilian yang langsung menyita perhatian.
“Kalau bisa sebulan sekali kita buat pengajian besar skala provinsi dan kita keliling ke daerah-daerah di Sumatera Utara,” ujar mantan Wali Kota Medan itu dengan semangat.
Menurut Bobby, selama ini pendekatan pencegahan bencana terlalu timpang. Fisik dan sains memang penting, tapi akal manusia ada batasnya. Karena itu, memperkuat nilai-nilai keagamaan adalah benteng kedua yang tak kalah strategis.
Yang bikin heboh: Bobby tak main-main. Ia sudah meminta pengurus LPTQ untuk menyusun program konkret dan tak ragu mengajukan anggaran ke Pemprov Sumut. Bahkan ia berani berkata:
“Dibilang tidak ada anggaran untuk urusan agama, itu tidak boleh. Untuk kegiatan yang memperkuat syiar agama dan pembinaan umat, kami siap mendukung.”
Pernyataan ini langsung jadi perbincangan hangat. Netizen Sumut ramai-ramai mendukung, seraya bertanya-tanya daerah mana yang akan jadi lokasi pengajian keliling perdana.
Lebih jauh, Bobby mengingatkan transformasi besar LPTQ. Jangan lagi dipandang sebagai “lembaga dadakan” yang sibuk hanya jelang MTQ atau saat lomba tilawah. Tugas utamanya adalah pembinaan Al-Qur’an berkelanjutan sepanjang tahun.
“LPTQ bukan lembaga yang kerjanya satu atau dua tahun sekali saat MTQ. LPTQ harus terus bergerak dan berkesinambungan untuk memperkuat syiar Al-Qur’an di Sumatera Utara,” tegasnya.
Kritik halus ini menyentil kebiasaan publik yang lebih sibuk membahas kemeriahan, anggaran, dan panggung megah MTQ ketimbang proses kaderisasi qari, qariah, hafiz, dan hafizah dari tingkat kecamatan. Bobby ingin membalik fokus itu.
Target akhirnya? Membumikan Al-Qur’an. Bukan sekadar ajang perlombaan yang usai lalu padam. Tapi bagaimana ayat-ayat suci benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat Sumut.
“Tujuan akhirnya adalah bagaimana syiar Al-Qur’an benar-benar hidup di tengah masyarakat dan membawa keberkahan bagi Sumatera Utara,” pungkas Bobby.
Dampak yang diharapkan, masyarakat lebih sadar bencana secara spiritual, syiar Islam merata hingga daerah terpencil, LPTQ punya program tahunan nyata, bukan seremoni dan MTQ menjadi gerakan, bukan sekadar lomba
Gagasan Bobby Nasution ini bukan sekadar wacana manis. Ini adalah game changer dalam kebijakan keagamaan dan kebencanaan di Sumut. Pertanyaannya, siapkah kita semua mengikuti? (Rel)