Dua Jari Terakhir Nenek Haloho: Isyarat Misterius di Balik Kematian Lansia di Kebun Sawit 

SIMALUNGUN — Senyap. Hanya desiran angin yang merambat di antara pelepah kelapa sawit. Namun, Selasa (8/9/2026) pagi itu, hamparan hijau di Jalan Kenari Tujuh, Nagori Nusa Harapan, Kecamatan Siantar, justru menjadi saksi bisu tragedi yang gemparkan warga.

Seorang nenek bermarga Haloho ditemukan tergeletak lemah di areal perkebunan yang terletak tepat di belakang rumahnya sendiri.

Tubuhnya rapuh, napasnya tersengal, tapi matanya masih berusaha terbuka—seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tak sempat terucap.

Saat dievakuasi warga, nenek itu mengacungkan dua jari. Satu isyarat yang hingga kini masih menjadi teka-teki. Apakah itu angka dua? Atau simbol permintaan tolong? Atau seperti bisikannya kepada keluarga tanda bahwa ada dua orang yang telah menganiayanya?

Keponakan korban, yang akrab disapa Siadari, menceritakan dengan suara bergetar, “Waktu dibawa ke puskesmas, beliau masih sadar. Beliau bilang, ‘ada dua orang yang mukul saya’.”

Baca Juga : Tragedi Lampu Merah Ngumbang Surbakti: Innova Hajar Vario Bonceng Tiga, Seorang Ibu Rumah Tangga Tewas di Jalan

Kalimat pendek itu kini menjadi pusat penyelidikan. Siapa dua orang yang dimaksud? Mengapa mereka tega memukul seorang perempuan lanjut usia yang hanya hendak pergi ke pasar?

Peristiwa bermula pagi itu. Sang nenek pamit pada suami dan keluarga hendak ke pasar. Namun, waktu bergulir hingga siang, tak kunjung terdengar kabar. Kecemasan mulai menyelimuti rumah tangga mereka.

Sekitar pukul 07.00 WIB, seorang satpam kebun yang sedang berpatroli melihat sesosok perempuan tergeletak di antara pohon sawit. Informasi itu disampaikan ke warga, namun suami korban awalnya belum menanggapi. Hingga akhirnya, warga bersama sang suami memastikan ke lokasi.

Dan di sanalah, di bawah rimbunnya daun sawit yang seharusnya menjadi sumber penghidupan, mereka menemukan kenyataan paling pahit: itu adalah istrinya.

“Setelah kami cek, ternyata benar istrinya. Kami langsung bawa korban ke puskesmas,” ujar seorang perangkat desa yang enggan disebutkan namanya.

Namun, pertolongan medis datang terlambat. Di puskesmas terdekat, nyawa nenek Haloho tak tertolong. Jenazahnya kemudian dibawa ke RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar untuk menjalani visum. Tangis keluarga pecah saat ambulans tiba di rumah sakit.

Salah satu fakta paling ironis dari tragedi ini adalah lokasi kejadian tepat di belakang rumah korban. Sebuah lahan yang mungkin setiap hari ia lihat dari jendela dapurnya, tiba-tiba berubah menjadi tempat di mana nyawanya melayang.

Nagori Nusa Harapan, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, merupakan kawasan yang tak asing dengan perkebunan sawit. Hamparan hijau menjadi pemandangan sehari-hari warga. Namun, kali ini, kebun tersebut menyimpan duka yang mendalam.

Keluarga korban kini hanya bisa berharap pada aparat kepolisian. Mereka meminta pengusutan tuntas atas dugaan penganiayaan yang menyebabkan nenek Haloho meregang nyawa.

Sejauh ini, jenazah masih berada di RSUD Djasamen Saragih untuk pemeriksaan lebih lanjut. Visum et repertum diharapkan bisa mengungkap penyebab pasti kematian—apakah murni karena kekerasan fisik atau ada faktor lain yang memperparah kondisi korban.

Kasus ini bukan pertama kali terjadi di Simalungun. Januari lalu, seorang petani lansia bernama Almen Manurung (73) juga ditemukan tewas di kebun sawit. Juli lalu, Nenek Hermin Silalahi (78) ditemukan meninggal di parit perkebunan sawit.

Yang membedakan kasus Nenek Haloho adalah adanya bisikan korban dan isyarat dua jari sebelum ajal. Ini bukan sekadar kematian ini adalah pesan terakhir yang harus dijawab oleh keadilan.

Apakah lansia di Simalungun sedang tidak aman? Apakah ada pola kekerasan yang mengintai mereka yang rentan ? Pertanyaan-pertanyaan ini kini menggantung di udara, menunggu jawaban dari proses hukum yang berjalan.

Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan, satu hal yang tak boleh tenggelam: nyawa seorang nenek telah melayang. Dua jari yang diacungkannya bukan sekadar isyarat—itu adalah jeritan terakhir seorang manusia yang meminta keadilan.

Semoga aparat penegak hukum bergerak cepat. Semoga dua orang yang disebutkan korban segera terungkap. Dan semoga, tak ada lagi nenek yang harus meregang nyawa di kebun sawit di belakang rumahnya sendiri sambil mengacungkan dua jari yang tak pernah sempat diartikan. (FD)

#BeritaSumut#DugaanPenganiayaan#IsyaratDuaJari#KeadilanUntukNenek#KebunSawit#kitamedandotcom#Lansia#NenekHaloho#Simalungun#SuaraLansia#ViralHariIni