Pemimpin Muda Indonesia Uji Nyali di Wilayah Rawan Bencana, Ini yang Terjadi!

SIPIROK, TAPANULI SELATAN – Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin ekstrem, sekelompok pemimpin masa depan Indonesia memilih terjun langsung ke “laboratorium bencana” untuk mengasah kemampuan kepemimpinan adaptif.

Rombongan Pejabat Administrator ini mengikuti Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) yang digelar di BPBD Tapanuli Selatan, sebuah kabupaten yang menyimpan kompleksitas geografis dengan tingkat kerawanan bencana hidrometeorologi dan geologi yang sangat tinggi pada 21 Juli 2026.

Berbeda dengan pelatihan kepemimpinan pada umumnya, program Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XII ini mengusung pendekatan revolusioner menjadikan krisis sebagai guru terbaik.

Peserta tidak hanya duduk manis di ruang kelas, tetapi diajak mengidentifikasi langsung kondisi eksisting penanggulangan bencana, menggali praktik baik (best practices), hingga menganalisis keunggulan kompetitif daerah dalam membangun sistem ketahanan.

“Ini bukan sekadar kunjungan lapangan,” tegas Ketua Kelompok I, Andri Ridwan. “Kami memetakan kesenjangan antara teori kepemimpinan dengan realitas birokrasi di daerah yang paling terdampak ancaman bencana. Hasilnya? Ada temuan mengejutkan yang membutuhkan terobosan kepemimpinan berbasis data.”

Hasil identifikasi lapangan mengungkap BPBD Tapanuli Selatan memiliki fondasi kuat berupa kelembagaan yang solid, komitmen pimpinan, serta jaringan posko strategis yang terintegrasi.

Namun, tantangan besar masih menghadang: mulai dari sistem informasi kebencanaan yang belum terintegrasi, keterbatasan SDM, hingga Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) yang memerlukan pemutakhiran segera.

Baca Juga : Rapat Darurat Rico Waas : Evaluasi Kritis Pasca Banjir Besar & Siaga Total Hadapi Cuaca Ekstrem 1-9 Desember

Menariknya, para pemimpin muda ini tidak hanya mengkritisi, tetapi merumuskan 5 Rekomendasi Strategis yang menjadi terobosan:

1. Pengembangan Sistem Informasi Kebencanaan Terintegrasi (SIKAT) – Platform digital yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan.
2. Pembaruan Kajian Risiko Bencana – Data akurat sebagai basis keputusan cepat dan tepat.
3. Penguatan Early Warning System – Sistem peringatan dini berbasis teknologi terkini.
4. Pengembangan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) – Pemberdayaan masyarakat sebagai garda terdepan.
5. Optimalisasi Kolaborasi Pentahelix – Sinergi pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media.

“Transformasi digital bukan lagi pilihan, tetapi keharusan dalam tata kelola kebencanaan,” ungkap Coach Dr. Drs. Surya Jaya.

Yang membedakan program ini adalah pendekatan action learning yang menghubungkan konsep akademik dengan praktik nyata.

Para peserta yang terdiri dari Andri Ridwan (Ketua), Subhan Fajri Harahap, M. Odi Anggia Batubara, Dr. Yulinda Elvi Nasution, Mhd. Aldy Ramadhan, Ade Sofianita, M. Agha Novrian, Rizki Marlina, Abu Kosim, Ady Putra Parlaungan, Albert Butar-butar, dan Hasrul Irfan- kembali ke instansi masing-masing dengan bekal pengalaman empiris yang tak ternilai.

Visitasi ini menegaskan pesan penting: ketangguhan daerah terhadap bencana tidak hanya bergantung pada infrastruktur fisik, tetapi pada kepemimpinan strategis yang mampu membaca perubahan, berkolaborasi lintas sektor, dan berinovasi berbasis data.

Inilah fondasi untuk mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045, dimana setiap daerah di Nusantara memiliki resiliensi terhadap ancaman bencana. (Rel)

#BPBD#DataBencana#IndonesiaEmas2045#KepemimpinanAdaptif#KepemimpinanNasional#kitamedandotcom#MitigasiBencana#PKN2026#ResiliensiDaerah#TapanuliSelatan#TransformasiDigital