MEDAN – Bau busuk selama puluhan tahun akhirnya meledak jadi aksi. Puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan gerakan peduli lingkungan mengepung Gedung DPRD Medan, Senin (20/4/2026). Tuntutan keras tutup PT Kilang Kecap Angsa di Jalan Bono, Kecamatan Medan Timur.
“Rekomendasikan penutupan! Warga di sekitar sudah menderita puluhan tahun karena aroma menyengat dari pabrik kecap itu,” teriak salah satu orator di depan pintu DPRD.
Tak cuma bau, massa juga melaporkan adanya pencemaran limbah cair yang merembes ke lingkungan. Puluhan tahun keluhan tak direspons serius. Kini, mahasiswa dan warga bersatu meminta tindakan tegas.
Ketua Komisi 4 DPRD Medan, Paul Mei Anton Simanjuntak, SH, turun langsung menemui pendemo. Di tengah hujan deras yang tiba-tiba mengguyur, pertemuan berlangsung dramatis. Massa dan dua anggota DPRD basah kuyup, tapi semangat tak surut.
“Kami sebulan lalu sudah cek ke lokasi. Benar, baunya sangat mengganggu pernapasan. Terima kasih atas kepedulian warga,” ujar Paul.
Pertemuan kemudian dilanjutkan di ruang Komisi 4 DPRD Medan. Massa menegaskan bahwa perusahaan telah melakukan pelanggaran lingkungan berulang kali. Karena itu, harus ada konsekuensi, bukan sekadar teguran.
Paul Simanjuntak merespons dengan pernyataan yang langsung disambut tepuk tangan jika terbukti melanggar ketentuan, kita minta diperbaiki secepatnya. Kalau tidak mampu atau tidak mau, rekomendasikan tutup cabut izinnya.
Disepakati, awal Mei 2026 akan digelar Rapat Dengar Pendapat (RDP). Semua pemangku kepentingan diundang, termasuk OPD Pemerintah Kota Medan dan pihak perusahaan.
“Kami minta DPRD konsisten. Jangan hanya janji. Puluhan tahun warga menghirup racun,” tegas koordinator aksi.
Aksi ini menjadi sorotan karena pabrik kecap legendaris di Medan itu selama ini dianggap “kecil” sehingga luput dari pengawasan. Namun bau menyengat dan limbah cair yang merusak saluran air warga sudah tak bisa ditoleransi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Kilang Kecap Angsa belum memberikan tanggapan resmi. Namun desakan publik menguat: lingkungan sehat atau pabrik tutup.
Pantau terus perkembangan RDP awal Mei. Jangan biarkan pabrik beracun tetap beroperasi dengan mengorbankan nyawa warga. Bagikan artikel ini agar tekanan publik makin besar. (FD)