MEDAN – Puncak kemeriahan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-59 tingkat Kota Medan usai sudah. Kecamatan Medan Selayang keluar sebagai juara umum setelah bersaing ketat dengan 21 kecamatan lainnya. Posisi kedua ditempati Kecamatan Medan Sunggal, dan juara ketiga diraih Medan Barat.
Penutupan megah berlangsung Sabtu malam (18/4/2026) di Jalan Gatot Subroto, ditandai dengan pemukulan beduk oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Medan, M. Sofyan, mewakili Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas.
Tak hanya itu, bendera MTQ diturunkan sebagai simbol berakhirnya perhelatan yang berlangsung 11–18 April 2026. Selanjutnya, bendera diserahkan ke Kecamatan Medan Petisah yang akan menjadi tuan rumah MTQ ke-60 tahun 2027.
Dalam sambutan tertulis Wali Kota yang dibacakan M. Sofyan, MTQ bukan ajang sekadar lomba. “MTQ sejalan dengan misi menjadikan Medan sebagai kota kuat dalam nilai multikultural,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bagaimana event ini mendorong ekonomi kreatif. “Saya lihat langsung stan kopi, makanan khas, kerajinan tas. Ini bukti potensi ekonomi masyarakat tumbuh,” tambahnya.
Yang membuat gelaran tahun ini istimewa adalah dampak ekonomi dan pendidikan yang nyata. Kabag Kesra Setda Medan, Agus Maryono, melaporkan bahwa 692 peserta dari kecamatan, madrasah aliyah, dan ponpes se-Medan ambil bagian.
Namun yang paling mencuri perhatian: total transaksi UMKM selama MTQ mencapai Rp590.769.000! Pemko Medan memfasilitasi stan gratis bagi pelaku UMKM, menghasilkan putaran uang yang luar biasa.
Lebih menggembirakan lagi, para pemenang MTQ tidak hanya membawa pulang trofi dan uang pembinaan. Mereka juga mendapat beasiswa pendidikan 8 semester dari tiga universitas ternama di Medan.
Total ada 75 kuota beasiswa, rinciannya: Universitas Cut Nyak Dhien (30 beasiswa), UMSU (30 beasiswa), dan Universitas Panca Budi (15 beasiswa). Ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat MTQ tahun ini viral di kalangan pelajar dan mahasiswa.
M. Sofyan mengajak seluruh umat muslim di Medan untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi mengamalkan nilai-nilainya.
“Kota Medan berupaya menjadi kota inklusif, maju, dan berkelanjutan dengan mengedepankan nilai keagamaan dan sosial. Sinergi semua pihak adalah kunci harmoni di tengah masyarakat heterogen,” pungkasnya.
Selain pengumuman juara umum dan peraih piala bergilir, acara juga memberikan penghargaan untuk stan terbaik dan pawai ta’aruf terbaik.
MTQ ke-59 Medan membuktikan bahwa ajang keagamaan bisa menjadi lokomotif ekonomi, pendidikan, dan kebanggaan bersama. Selamat untuk Medan Selayang! (Rel)