SIMAlUNGUN – Pemerintah Kabupaten Simalungun menegaskan peringatan Hari Jadi ke-193 bukan sekadar seremoni, melainkan momentum strategis memperkuat jati diri budaya sekaligus mendorong percepatan pembangunan daerah.
Penegasan itu mengemuka dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Simalungun di Gedung DPRD, Pamatang Raya, Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan berlangsung khidmat dan dihadiri unsur pimpinan daerah, Forkopimda, tokoh adat, agama, serta masyarakat.
Ketua DPRD Simalungun, Sugiarto, menekankan tantangan pembangunan di era globalisasi semakin kompleks sehingga membutuhkan kolaborasi seluruh pihak.
“Diperlukan inovasi, sinergi, dan partisipasi aktif masyarakat untuk mendorong kemajuan daerah,” tegasnya.
Bupati Simalungun, Anton Achmad Saragih, menegaskan bahwa peringatan hari jadi harus menjadi penguat hubungan antara generasi masa kini dengan warisan sejarah.
Ia menjelaskan, penetapan 11 April sebagai Hari Jadi Simalungun merujuk pada naskah kuno Laklak Simalungun yang ditulis pada 11 April tahun 686 Masehi, sementara tahun 1833 menjadi dasar usia daerah terkait terbentuknya Perserikatan Raja Maropat.
Baca Juga: Jembatan Aramco Simalungun Dibangun, Akses Dipercepat
“Ini bukan sekadar angka, tapi penanda sejarah dan identitas daerah yang harus dijaga dan dilanjutkan,” ujarnya.
Bupati juga mengingatkan bahwa nilai-nilai luhur warisan leluhur harus diwujudkan dalam kerja nyata.
“Rasa memiliki terhadap daerah harus tercermin dalam kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas,” katanya.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan, Pemkab Simalungun menggelar sejumlah kegiatan, termasuk ziarah ke makam Raja Marpitu dan penelusuran situs sejarah. Puncak perayaan dijadwalkan berlangsung pada 18 April 2026.
Dengan mengusung visi “Bersama Semangat Baru Simalungun Menuju Simalungun Maju”, pemerintah daerah menargetkan penguatan pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi, serta sinergi lintas sektor sebagai kunci pembangunan ke depan.
Peringatan 193 tahun Simalungun pun ditegaskan sebagai titik tolak mempercepat kemajuan, bukan sekadar mengenang masa lalu. (RS)