Sumut Targetkan Nol Karhutla, Strategi “Lawan Api dengan Data” Jadi Kunci

MEDAN – Mimpi memiliki Sumatera Utara yang bebas dari asap sudah bukan sekadar wacana. Di balik upaya pemadaman konvensional, Pemprov Sumut tengah menggeser paradigma penanggulangan Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) ke arah yang lebih cerdas: memadukan kekuatan manusia dengan kecanggihan teknologi.

Kepala DLHK Sumut, Heri Wahyudi Marpaung, dalam dialog interaktif “Sumut Nol Karhutla” belum lama ini, membeberkan strategi yang jarang terekspos. Jika media lain fokus pada jumlah personel, Pemprov Sumut rupanya mengandalkan sistem deteksi dini berbasis data satelit.

Alih-alih menunggu asap membubung, tim gabungan kini memantau titik panas (hotspot) setiap hari melalui platform SiPongi, pemantauan LAPAN, serta data satelit NOAA dan Terra.

“Kami tidak lagi bergerak buta. Setiap anomali suhu di lahan gambut dan non-gambut terdeteksi sebelum menjadi kobaran api. Ground check (pengecekan lapangan) menjadi langkah krusial untuk memverifikasi data satelit tersebut,” jelas Heri.

Strategi ini didukung oleh kesiapan tempur personel Manggala Agni yang tersebar di tiga Daerah Operasi (Daops): Sibolangit (Karo), Aek Nauli (Simalungun), dan Langga Payung (Labuhanbatu Selatan).

Baca Juga : Karhutla Mempawah Meluas, INALUM dan Grup MIND ID Kerahkan 60 Relawan Pemadam

Pendekatan teknologi tak akan berarti tanpa peran serta warga. Pemprov Sumut menyadari hal ini dengan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) di lima titik rawan.

Lima titik tersebut yakni Padanglawas Utara, Toba, Karo, Tapanuli Utara, dan Samosir. Kelompok ini bukan sekadar formalitas, melainkan ujung tombak yang telah dibekali peralatan mumpuni—mulai dari pakaian lapangan, gepyok (alat pemukul api), hingga jet shooter.

Heri tak menampik adanya tantangan. Karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan topografi sulit menjadi momok tersendiri.

Namun, inovasi sekat kanal di lahan gambut menjadi jawaban untuk menjaga hidrologi dan mencegah api merambat. Selain itu, pemegang izin kehutanan diwajibkan membentuk MPA sebagai bentuk tanggung jawab korporasi.

Dengan sinergi antara pemerintah, TNI/Polri, BPBD, LSM, dan masyarakat, upaya pemadaman tidak lagi bersifat parsial.

“Kami ingin memastikan jika api sekecil apa pun muncul, ada yang melaporkan dan ada yang bergerak cepat. Sinergi ini adalah kunci,” pungkas Heri.

Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan jika melihat indikasi kebakaran. Mari jaga Sumut, jangan biarkan setitik api menghanguskan harapan. (FD)

#DeteksiDini#KarhutlaSumut#kitamedandotcom#LingkunganHidup#ManggalaAgni#MPA#PemprovSumut#SumutNolKarhutla