MEDAN – Di balik kilau selempang dan senyum optimistis para Duta Generasi Berencana (GenRe), tersimpan beban moral yang sangat berat.
Wali Kota Medan, Rico Waas, tidak ingin para duta ini sekadar menjadi “pemanis” acara seremonial. Ia menuntut aksi nyata.
Pesan itu disampaikan dengan nada tegas namun hangat saat menerima audiensi Pengurus Cabang Forum GenRe Indonesia Kota Medan di Rumah Dinas Wali Kota, Jumat (18/9/2026).
Didampingi Bunda GenRe Kota Medan, Ny. Airin Rico Waas, ia menyoroti realitas kelam yang mengintai remaja kota ini.
“Jangan hanya bangga pakai selempang. Selempang itu simbol, tapi tanggung jawabnya nyata. Duta GenRe harus turun ke lapangan, menjadi teman sebaya yang mampu membentengi rekan-rekannya dari seks bebas, narkoba, dan pernikahan dini,” tegas Rico Waas.
Ia menekankan bahwa tugas Duta GenRe bukanlah sekadar prestise. Di era digital yang penuh distraksi ini, kehadiran figur muda yang mampu mengadvokasi pentingnya perencanaan masa depan menjadi krusial.
“Kalian harus punya mental tangguh dan karakter kuat. Siapkan rencana, tapi juga siap hadapi realita kehidupan,” pesannya.
Ketua Forum GenRe Kota Medan, Dio Ferdiansyah, menyambut baik arahan tersebut. Ia menjelaskan bahwa audiensi ini juga untuk memohon doa restu jelang Jambore Ajang Kreativitas di tingkat provinsi hingga nasional pada 20-22 September 2026.
“Kami siap membawa nama Medan, tidak hanya sebagai peserta, tapi sebagai agen perubahan,” ujarnya.
Mengapa Ini Penting?
Pernyataan Rico Waas ini adalah tamparan halus bagi organisasi kepemudaan yang kerap terjebak pada formalitas.
Di tengah meningkatnya kasus kenakalan remaja, pesan ini menjadi alarm bahwa generasi berencana harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar simbol.
Audiensi ini juga dihadiri pejabat terkait, menunjukkan keseriusan Pemko Medan dalam mengawal program kependudukan dan pembangunan keluarga.
Viral & Berbeda:
Berita ini bukan sekadar laporan audiensi. Ini adalah refleksi kritis tentang peran pemuda. Media lain mungkin hanya melaporkan “Rico Waas terima GenRe”.
Kami menyajikan value dan urgensi di baliknya bahwa masa depan Medan bergantung pada seberapa nyata dampak yang dibawa oleh generasi mudanya. Inilah wajah baru kepemimpinan yang menuntut hasil, bukan sekadar proses. Medan butuh aksi, bukan sekadar selempang. (Rel)