MEDAN – Cahaya lilin perdamaian menyala di Lapangan Benteng Medan. Ribuan lilin kecil membentuk gelombang terang yang hangat, menemani kidung paritta yang menggema pelan.
Sabtu malam (13/6/2026) menjadi saksi perayaan Waisak 2570 BE/2026 yang tak biasa. Bukan sekrup ritual tahunan, melainkan panggilan kolektif untuk merawat harmoni di kota yang dikenal sebagai miniatur Indonesia.
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, hadir bersama istri, Ny. Airin Rico Waas, serta Wakil Wali Kota Zakiyuddin Harahap, Ketua DPRD Medan Wong Chun Sen, dan jajaran Forkopimda.
Namun yang paling menggetarkan adalah pesannya. Kata dia Waisak jangan hanya jadi seremoni keagamaan. Mari kita jadikan momentum memperbaiki diri, menebar kebaikan, dan menjaga keharmonisan setiap hari.
Dalam sambutannya di hadapan para Bhikkhu Sangha, tokoh lintas agama, dan ratusan umat Buddha, Rico Waas menekankan tiga hal disruptif namun sederhana: lepaskan iri, hentikan kebiasaan menyalahkan orang lain, dan kendalikan emosi berlebihan.
Menurutnya, kedamaian sejati tidak diukur dari harta atau jabatan—tetapi dari kemampuan hidup dalam cinta kasih, saling menghargai, dan menghormati perbedaan.
“Ketika kita mampu hidup dengan cinta kasih dan saling menghormati, di situlah kedamaian sesungguhnya dirasakan,” ujarnya menguatkan.
Puncak acak ditandai dengan penyalaan obor perdamaian oleh Rico Waas bersama Zakiyuddin Harahap dan unsur Forkopimda. Api yang membakar sumbu lilin menjadi simbol harapan: kehidupan harmonis, toleran, dan penuh hormat.
Tak lama setelah itu, pawai Waisak dilepas diiringi gemuruh sorak dan gemerincing lonceng dhamma. Ratusan umat Buddha berjalan khidmat membawa lentera—sebuah visual yang langsung membius siapa pun yang menyaksikan.
Sebelumnya, Ketua Walubi Kota Medan, Arman Chandra, mengingatkan bahwa harmoni dalam keberagaman adalah fondasi mutlak kemajuan Medan.
Tema “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan” dipilih bukan tanpa alasan. Di tengah zaman yang kian dinamis, kompas moral harus tetap terjaga.
“Perdamaian tidak lahir dari kesamaan, melainkan dari kemampuan kita hidup berdampingan dalam keberagaman,” tegas Arman Chandra.
Dia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemko Medan. Dukungan tanpa henti dari Pak Wali dan Wakil Wali Kota membuat perayaan Waisak berjalan masif, meriah, dan inklusif. Ini bukti otentik bahwa kenyamanan beribadah adalah hak semua warga.
Perayaan Waisak 2570 BE di Medan bukan sekadar berlalu seperti debu. Ia meninggalkan pesan yang melekat kedamaian dimulai dari diri sendiri.
Ketika lilin-lilin itu padam keesokan paginya, apinya menyala dalam hati mereka yang hadir mengingatkan bahwa harmoni bukanlah mimpi, melainkan pilihan sadar setiap individu.
Medan membuktikan: di tengah perbedaan, cahaya cinta kasih tetap mampu menerangi. Selamat Waisak 2570 BE. Semoga kedamaian menyertai kita semua. (Rel)