BUKAN MESSI, TAPI WASIT!

MEDAN – Sorak-sorai gemuruh di tribun pendukung Argentina memang menggema di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta.

Namun di balik euforia comeback dramatis 3-2 itu, tersimpan pertanyaan mengerikan yang mengancam kredibilitas Piala Dunia 2026.

Apakah Mesir benar-benar kalah oleh sepak bola, atau kalah oleh peluit wasit Prancis, Francois Letexier?

Jika ditelusuri bingkai demi bingkai, laga panas babak 16 besar ini bukanlah milik Lionel Messi atau Enzo Fernandez.

Malam itu, wasit berusia 37 tahun yang masuk dalam jajaran wasit elite Eropa itu justru menjadi aktor utama yang secara sistematis menggiring kemenangan ke pangkuan Albiceleste, sekaligus merobek mimpi indah Mesir secara keji.

Saat Mesir unggul 1-0 lewat gol Yasser Ibrahim pada menit ke-15 dan mulai menguasai ritme, Mostafa Ziko kembali mencetak gol pada menit ke-58 yang seharusnya menggandakan kedudukan. Namun, Letexier justru mengaktifkan VAR dan memilih menganulir gol tersebut.

Apa alasannya? Wasit menilai Marwan Attia melakukan pelanggaran terhadap Lisandro Martinez di awal serangan nyaris 100 yard dari gawang! Padahal, serangan tersebut sudah berlangsung lebih dari 30 detik sebelum bola masuk.

Bagi pengamat netral, keputusan ini absurd. Mantan wasit Premier League, Graham Scott, dengan tegas menyatakan keputusan menganulir gol Mesir itu tidak benar.

Kontak tersebut adalah kontak normal dan seharusnya dianggap demikian, bukan sebagai pelanggaran. Ini intervensi yang mencengangkan dan pelanggaran besar terhadap peran VAR.

Insiden ini menjadi awal petaka yang mematikan momentum kemenangan Mesir dan justru memberi “napas buatan” bagi Argentina yang saat itu terkapar.

Namun, puncak “pembantaian” terjadi di 10 menit akhir. Saat skor 2-2 dan Argentina mulai goyah diterjang serangan balik Firaun, dua insiden kontroversial terjadi secara berturut-turut di kotak terlarang Argentina:

1. Hamdy Fathy dijatuhkan dengan kontak fisik jelas dari Alexis Mac Allister di dalam kotak penalti.
2. Megabintang Mohamed Salah juga diganggu secara ilegal oleh Julian Alvarez di area yang sama, beberapa saat sebelum gol kemenangan Argentina.

Dua pelanggaran itu terjadi dalam selang waktu singkat. Keduanya jelas, terlihat, dan layak penalti. Namun, Letexier dan tim VAR bertindak seperti “tuli dan buta”.

Baca Juga : Argentina Bangkit Dari 0-2, Tekuk Mesir 3-2 Di Piala Dunia 2026

Tak ada peluit, tak ada pengecekan ulang. Wasit itu dengan sengaja mematikan harapan terakhir Mesir untuk kembali unggul, seolah ada “tangan tak terlihat” yang menjaga Argentina tetap bertahan di turnamen.

Bahkan, kartu kuning diberikan kepada staf pelatih Mesir dan pelatih Hossam Hassan yang memprotes keputusan tersebut. Ironisnya, hingga akhir laga, Mesir menerima lima kartu kuning sementara Argentina nol.

Ironi paling tragis terjadi beberapa detik setelah dua pelanggaran itu diabaikan. Bola justru bergulir cepat ke sisi lapangan Argentina, dan tanpa hambatan, Enzo Fernandez melesakkan gol kemenangan pada menit ke-90+2. Skor berubah 3-2 untuk Argentina.

Mesir tidak kalah di lapangan mereka dihancurkan oleh peluit yang sengaja dibiarkan diam. VAR yang begitu “rajin” menelusuri pelanggaran 100 yard dari gawang untuk menganulir gol Mesir, tiba-tiba menjadi “malas” ketika Mesir membutuhkan penalti di menit-menit krusial.

Usai pertandingan, kemarahan Mesir meledak bak gunung api. Pelatih Hossam Hassan dengan berani melontarkan tuduhan adanya “faktor eksternal” yang melindungi Messi dan Argentina:

“Mungkin mereka ingin juara bertahan tetap berada di kompetisi. Mungkin mereka ingin Lionel Messi terus bermain. Dalam sepak bola terkadang ada faktor-faktor di luar aspek teknis. Juara bertahan mendapatkan dukungan di semua level.”

Dengan penuh kepedihan, Hassan bahkan menyatakan ia tidak akan pernah menonton Piala Dunia lagi karena tidak ada keadilan dalam kompetisi ini.

Bahkan, pemain Mesir Mostafa Ziko dengan lantang berteriak bahwa turnamen ini “diatur” untuk sang juara bertahan: “Piala ini diarahkan untuk Argentina.”

Asosiasi Sepak Bola Mesir tak tinggal diam. Ketua Hani Abu Rida telah melayangkan komplain resmi penuh bukti video ke FIFA, menuntut investigasi terhadap wasit dan tim VAR atas apa yang disebutnya sebagai “kejahatan diskriminasi” terhadap tim nasional Mesir. Mereka bahkan menuntut agar Letexier dan timnya dikeluarkan dari sisa turnamen.

Skor 3-2 memang tertulis di papan skor, tetapi keadilan telah terkubur dalam-dalam. Malam itu, Argentina tidak menang oleh kualitas atau strategi; mereka menang karena kepemimpinan wasit yang cacat dan tendensius.

Legenda Inggris Alan Shearer bahkan mengecam di media sosial: “Harusnya kedua tim diperlakukan sama, atau tidak sama sekali.”

Mesir pulang dengan kepala tegak, mengetahui bahwa mereka bukanlah pecundang sejati. Mereka adalah korban dari salah satu skandal kepemimpinan wasit paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia.

FIFA kini berada di persimpangan jalan. Jika protes Mesir diabaikan, maka selamanya turnamen ini akan dikenang bukan karena sepak bola indah, melainkan sebagai ajang panggung sandiwara yang melindungi kekuasaan sepak bola global. (FD) 

“Mesir bukan kalah dari Argentina, tapi kalah dari wasit.”

#ArgentinaVsMesir#EnzoFernandez#FrancoisLetexier#kitamedandotcom#KontroversiWasit#MesirDirampok#Messi#PialaDunia2026#SepakBolaDunia#SkandalWasit#VAR