NIAS UTARA – Langkah berani mulai digaungkan di tengah hamparan biru Pantai Tureloto. Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Golkar, Viktor Silaen, mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut untuk tidak sekadar jadi penonton.
Melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), ia ingin negara hadir mengelola komoditas rumput laut di Kabupaten Nias Utara secara utuh, dari hulu hingga hilir.
Bukan tanpa alasan. Potensi di kawasan Desa Balefadorotuho, Kecamatan Lahewa, disebutnya sangat besar dan bisa menjadi lokomotif ekonomi baru masyarakat.
Gagasan ini mengemuka setelah Viktor meninjau langsung aktivitas pengolahan rumput laut bersama Gubernur Sumut Bobby Afif Nasution dan rombongan Komisi D, Kamis (6/8/2026).
“Selama ini masyarakat hanya menjual ke penampung atau toke. Ke depan, BUMD bisa hadir membeli hasil panen dengan harga layak, lalu mengolahnya jadi produk bernilai tambah. Pemerintah tidak hanya mengelola bahan baku, tapi juga produk jadi,” tegas Viktor.
Data mendukung ambisi ini. Saat ini sekitar 50 warga terlibat dalam budidaya, mampu menghasilkan sedikitnya satu ton rumput laut kering setiap pekan.
Dengan siklus panen super cepat, hanya sekitar 45 hari, dan sistem tanam bergilir yang memungkinkan panen setiap hari, pasokan bahan baku sangat terjamin.
Fakta menarik lainnya, kualitas rumput laut Nias Utara sudah diakui pasar hingga Kalimantan Utara. Bahkan pembeli dari Nunukan yang sudah 30 tahun berkecimpung di bisnis ini mengaku kualitasnya sangat bagus. Ini membuktikan komoditas ini memiliki daya saing tinggi.
Viktor menilai industri turunan rumput laut memiliki pangsa pasar luar biasa luas, mencakup sektor makanan, kosmetik, hingga berbagai kebutuhan industri.
Jika melihat data nasional, nilai ekspor rumput laut Indonesia pada 2025 mencapai US$315,62 juta. Angka fantastis yang sayang jika dilewatkan begitu saja.
Yang menarik, modal untuk mengembangkan usaha pengolahan dinilai tidak terlalu besar dibanding potensi keuntungan yang bisa diraih. Viktor optimistis peluang ini harus dimanfaatkan maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nias Utara.
“Potensi bisnisnya sangat menjanjikan. Produk turunannya banyak, pasarnya luas, bahkan bisa menembus ekspor. Bahan baku tersedia dan siklus panen relatif cepat. Jika dikelola dengan manajemen baik serta permodalan memadai, permintaan meningkat dan otomatis berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat,” urainya.
Ia menambahkan keterlibatan pemerintah bisa dilakukan melalui pola kemitraan saling menguntungkan antara BUMD dan kelompok masyarakat. Masyarakat tetap menjadi pelaku utama budidaya, sementara pemerintah hadir sebagai penggerak industri dan pemasaran.
“Kerja sama dengan masyarakat bisa diatur melalui berbagai skema kemitraan. Yang terpenting masyarakat merasakan kehadiran pemerintah dan memperoleh manfaat ekonomi nyata dari potensi yang mereka miliki,” pungkasnya.
Langkah ini bukan sekadar wacana. Jika terealisasi, Nias Utara bisa bertransformasi dari sekadar pemasok bahan baku menjadi pusat industri olahan rumput laut yang mendunia. (FD)