MEDAN – Kabar mengejutkan datang dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bachtiar Djafar, Medan Utara.
Rumah sakit milik Pemerintah Kota (Pemko) Medan ini disebut-sebut dalam kondisi memprihatinkan. Bukan hanya minim dokter spesialis, tapi juga kamar operasi (OK) tidak berfungsi dan listrik sering padam!
Anggota Komisi II DPRD Medan, dr. Ade Taufiq Sp.OG, melontarkan kritik pedas setelah mendengar pengakuan jujur dari Direktur Utama RSUD Bachtiar Djafar, M. Muklis M.Kes, dalam rapat evaluasi triwulan I, Selasa (24/4/2026).
Alih-alih menunjukkan kemajuan, Muklis justru membeberkan fakta kelam: hunian tempat tidur (BOR) hanya 40% dari 100 tempat tidur, dan klaim BPJS cuma Rp5 miliar sepanjang tahun lalu.
“Di sinilah kemampuan pimpinan (Dirut) dituntut. Harus ada inovasi pengelolaan manajemen yang profesional!” tegas dr. Ade Taufiq, yang juga dokter spesialis anak itu.
Fakta yang Membuat Rakyat Medan Utara Kecewa:
· Nol Dokter Spesialis: RS Bachtiar Djafar tak memiliki tenaga medis spesialis. Pasien rujukan? Otomatis mati suri.
· Kamar Operasi Meninggal Dunia: Ruang OK (kamar bedah) tidak berfungsi. Operasi darurat? Pasien harus dirujak ke RS lain yang jauh.
Baca Juga : Fraksi PAN – Perindo DPRD Medan Tuding Manajemen RS Bachtiar Djafar Tidak Profesional
· Listrik Sering Padam: Di tengah kegawatdaruratan, listrik mati. Ini bukan hanya masalah kenyamanan, tapi nyawa!
· Minim Alat Kesehatan: Fasilitas penunjang diagnostik seperti usg, rontgen, atau laboratorium lengkap? Jangan harap.
Ade Taufiq mempertanyakan kapasitas Dirut Muklis. “Pertama, petakan kekuatan dan kelemahan. Kedua, solusi. Ketiga, eksekusi. Jangan hanya diam dan lesu,” sindirnya.
Yang paling memalukan: saat rapat berlangsung, para anggota dewan melihat langsung raut muka Dirut Muklis yang kurang semangat. Bahkan ada yang berteriak, “Semangat pak! Mari kita seriusi. RS ini harus mampu bersaing dengan RS swasta di sekitar Medan Utara!”
Dengan pelayanan yang amburadul, warga Belawan dan Medan Utara terpaksa jauh-jauh ke rumah sakit lain. Ironisnya, RS swasta justru kebanjiran pasien dari wilayah tersebut.
Tanggapan Lesu Sang Dirut:
Di hadapan Ketua Komisi II Kasman Bin Marasakti, Wakil Ketua Modesta Marpaung, Henry Jhon Hutagalung, Binsar Simarmata, serta perwakilan Dinkes Medan (Henny Lubis), Muklis hanya mengaku akan “berbuat maksimal” dan berharap dukungan DPRD.
Pertanyaannya: Apakah rakyat masih bisa berharap pada Dirut yang gairahnya redup? Atau DPRD Medan akan mengambil langkah tegas seperti hak interpelasi?
Rapat evaluasi yang berlangsung panas ini menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan di Medan Utara sedang dalam bahaya. Jika tidak segera dibenahi, jangan heran jika RS Bachtiar Djafar akan tutup usia. Publik menunggu aksi nyata, bukan janji kosong! (FD)