Bank Sumut Borong Penghargaan OJK: Teraktif Edukasi Finansial 208 Sekolah di Sumut

335

MEDAN — Di tengah derasnya arus digitalisasi yang sering kali menjebak generasi muda dalam perilaku konsumtif, PT Bank Sumut justru mengambil langkah strategis dengan kembali ke akar mendidik calon nasabah masa depan sejak bangku sekolah.

Komitmen ini berbuah manis. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara secara resmi menganugerahkan penghargaan sebagai Bank Teraktif dalam Pelaksanaan Program Bank Goes to School.

Penghargaan bergengsi ini bukan sekadar simbolis. Diserahkan langsung oleh Kepala OJK Sumut, Triyoga Laksito, kepada Direktur Utama Bank Sumut, Heru Mardiansyah, dalam forum bersama media partner di Medan, Selasa (22/9/2026).

Capaian ini menempatkan Bank Sumut di posisi terdepan, mengalahkan nominator kuat lain seperti Bank BJB dan Bank DKI.

Direktur Utama Bank Sumut, Heru Mardiansyah, menegaskan bahwa pendekatan perseroan berbeda dari sekadar pengenalan produk perbankan. Fokus utamanya adalah pembentukan karakter dan kebiasaan.

Baca Juga : Gubernur Bobby Nasution Kukuhkan Kahiyang Ayu sebagai Bunda Literasi & PAUD Sumut, Tekankan Pentingnya Konten Edukatif untuk Generasi Emas 2045

“Kami ingin pelajar tidak hanya mengenal perbankan, tetapi juga memahami esensi menabung, seni mengelola uang, serta bijak memanfaatkan layanan keuangan digital secara bertanggung jawab,” ujar Heru dengan penuh optimisme.

Data berbicara lebih lantang. Sepanjang periode Agustus 2025 hingga Agustus 2026, Bank Sumut telah menggelar 162 kegiatan literasi yang melibatkan 143 sekolah dan didukung oleh 68 unit kantor.

Total, program ini menjangkau 208 satuan pendidikan—sebuah angka masif yang mencakup 77 SD, 71 SMP, 51 SMA/SMK, hingga 9 TK. Ini adalah bukti nyata bahwa edukasi finansial tidak mengenal batas usia.

Keberhasilan ini berbanding lurus dengan capaian makro Provinsi Sumatera Utara. Triyoga Laksito memaparkan data mengejutkan dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026: tingkat literasi keuangan masyarakat Sumut mencapai 71,57%, jauh melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 69,57%.

“Ini adalah buah dari kolaborasi berkelanjutan. Lembaga jasa keuangan tidak hanya melayani, tetapi memiliki kewajiban edukasi agar produk dipahami dan dimanfaatkan secara tepat,” tegas Triyoga.

Di balik penghargaan ini, ada pertanyaan kritis apakah program ini akan berkelanjutan atau hanya seremonial?

Bank Sumut menjawabnya dengan komitmen perluasan program melalui sinergi dengan OJK, pemerintah daerah, dan institusi pendidikan. Peningkatan literasi keuangan dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang cakap mengambil keputusan finansial.

Ke depan, OJK akan terus memantau indeks literasi dan inklusi sebagai indikator efektivitas. Bagi Bank Sumut, penghargaan ini adalah pijakan, bukan garis akhir. Sebab, membangun generasi yang melek finansial adalah warisan paling berharga bagi masa depan Sumatera Utara. (Rel)