Nilai Jual Singkong Naik 24 Kali Lipat, Deli Serdang Perkuat Agroindustri
DELISERDANG – Pemerintah Kabupaten Deli Serdang mendorong hilirisasi ubi kayu (singkong) sebagai strategi meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, memperkuat ekonomi daerah, dan memperluas pasar hingga ke tingkat internasional.
Komitmen tersebut disampaikan Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan saat menjadi narasumber pada Forum Bisnis Daerah (Forbisda) dalam rangkaian Hari Ulang Tahun ke-26 Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) di IKM Hall, kemarin.
Dalam forum bertema peningkatan perdagangan dan bisnis antardaerah untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan tersebut, Asri menegaskan daerah tidak boleh hanya berperan sebagai penghasil bahan baku, tetapi harus mampu mengolah komoditas menjadi produk bernilai tambah tinggi.
“Deli Serdang memiliki potensi besar menjadi pusat agroindustri ubi kayu di Sumatera Utara. Yang dibangun bukan hanya sektor hulunya, tetapi juga industri pengolahannya agar petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik, UMKM berkembang, lapangan kerja bertambah, dan daya saing daerah meningkat,” ujar Asri.
Kabupaten Deli Serdang saat ini memiliki sekitar 97.500 hektare lahan pertanian, dengan lebih dari 12.400 hektare di antaranya dimanfaatkan untuk budidaya ubi kayu. Sentra produksi tersebar di Kecamatan Kutalimbaru, Sibolangit, Biru-Biru, STM Hulu, Pancur Batu, hingga Hamparan Perak.
Produksi ubi kayu juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dari sebelumnya 88.904 ton, naik menjadi 104.137 ton dan kini mencapai 109.310 ton per tahun. Selain itu, masih tersedia potensi pengembangan lahan sekitar 2.500 hektare untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Menurut Asri, hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Harga ubi kayu di tingkat petani rata-rata hanya sekitar Rp1.500 per kilogram. Namun setelah diolah menjadi produk seperti keripik, nilai jualnya dapat mencapai Rp36.000 per kilogram atau meningkat hingga 24 kali lipat.
“Komoditas yang diolah akan menghasilkan nilai ekonomi jauh lebih besar dibanding dijual dalam bentuk bahan mentah,” katanya.
Strategi hilirisasi tersebut telah mendorong tumbuhnya industri pengolahan di Deli Serdang. Saat ini terdapat 186 unit usaha keripik ubi kayu dan 99 unit usaha opak tradisional yang tersebar di berbagai wilayah.
Salah satu pelaku UMKM, UD Kreasi Lutvi, bahkan berhasil menembus pasar ekspor ke Malaysia dan Korea Selatan. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa produk olahan ubi kayu asal Deli Serdang mampu bersaing di pasar global.
Untuk memperkuat ekosistem industri tersebut, Pemkab Deli Serdang terus memberikan dukungan melalui penyediaan bibit unggul, pembangunan jalan usaha tani, penguatan kelompok tani, fasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR), pembangunan Rumah Produksi Bersama, hingga perluasan akses pemasaran bagi UMKM.
Ke depan, pemerintah daerah menargetkan peningkatan nilai tambah produk ubi kayu hingga 40 persen, memperluas sentra produksi ke 10 kecamatan prioritas, serta meningkatkan jumlah UMKM olahan ubi kayu bersertifikat dari 120 menjadi 300 unit usaha aktif.
Dalam forum yang sama, Ketua Umum APKASI Bursah Zarnubi menegaskan pentingnya memperkuat perdagangan antardaerah melalui pemanfaatan komoditas unggulan masing-masing wilayah. Menurutnya, dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 288 juta jiwa, Indonesia memiliki pasar domestik yang sangat besar sehingga daerah harus mampu membangun rantai pasok yang kuat tanpa bergantung pada produk impor.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI Iqbal Shoffan Shofwan mengatakan pemerintah tengah menyiapkan sistem nasional pendataan arus barang yang ditargetkan mulai diterapkan pada 2027 guna memperkuat distribusi komoditas dan perdagangan antardaerah.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan tiga nota kesepahaman, termasuk kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dan Pemerintah Kabupaten Simalungun terkait pengendalian inflasi melalui perdagangan antardaerah. (RS)