Saat Pasangan Membandingkanmu dengan Orang Lain, Ada Luka Bathin Menganga

384

MEDAN — Ada kalimat yang terdengar singkat, tetapi bisa tinggal lama di kepala.

“Coba kamu seperti dia.” Ada pula yang lebih menusuk. “Mantan aku dulu tidak begitu.”

Mungkin setelah mengucapkannya, pasangan kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Namun orang yang mendengarnya bisa membawa kalimat itu sampai berjam-jam, bahkan berhari-hari.

Bukan karena tidak mampu menerima kritik, melainkan karena yang membandingkan adalah orang yang paling diharapkan memberikan rasa aman.

Di situlah persoalannya bermula. Ketika seseorang terus dibandingkan dengan teman, pasangan orang lain atau mantan, yang terluka bukan hanya perasaan sesaat. Perlahan muncul pertanyaan tentang harga diri: Apakah aku memang tidak cukup? Apa selama ini semua yang kulakukan tidak pernah berarti?

Semakin sering terjadi, seseorang dapat mulai melihat dirinya melalui penilaian pasangannya.

Perhatian terasa kurang. Pengorbanan dianggap biasa. Prestasi orang lain menjadi ukuran. Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah dipermasalahkan tiba-tiba menjadi alasan untuk mengatakan bahwa orang lain lebih baik. Hubungan pun perlahan berubah menjadi arena perbandingan.

 

Penyebabnya tidak selalu karena pasangan sudah tidak mencintai. Bisa saja ada kebutuhan yang tidak tersampaikan, ekspektasi yang terlalu tinggi, rasa kecewa yang menumpuk, atau komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.

 

Ada pula orang yang menjadikan pengalaman masa lalu sebagai standar. Hubungan sebelumnya dianggap sebagai patokan untuk menilai hubungan yang sedang dijalani. Tanpa sadar, pasangan sekarang dipaksa bersaing dengan seseorang dari masa lalu.

 

Masalah semakin rumit ketika kehidupan orang lain di media sosial ikut dijadikan ukuran. Foto makan malam romantis, hadiah, liburan, pekerjaan yang terlihat mapan atau perhatian pasangan lain tampak sempurna di layar. Padahal, tidak semua bagian kehidupan mereka terlihat. Namun perbandingan tetap terjadi.

 

“Lihat pasangan dia, perhatian sekali.”

 

“Kenapa kamu tidak bisa seperti itu?”

 

Kalimat-kalimat tersebut mungkin dimaksudkan sebagai dorongan agar pasangan berubah. Tetapi jika terus diulang, yang tertinggal bukan motivasi. Yang tertinggal bisa berupa rasa tidak dihargai.

 

Orang yang terus dibandingkan bisa memilih diam. Bukan karena tidak terluka, tetapi karena lelah menjelaskan luka yang sama.

 

Sebagian mulai mengurangi cerita. Sebagian berhenti berharap. Sebagian lagi perlahan menjauh secara emosional, meski secara fisik masih berada dalam hubungan yang sama.

Hubungan bisa tetap berjalan, tetapi kehangatannya hilang sedikit demi sedikit. Percakapan menjadi sekadar rutinitas. Sentuhan tidak lagi terasa sama. Kebersamaan berubah menjadi kewajiban. Dan yang paling berbahaya, seseorang mulai terbiasa merasa dirinya tidak pernah cukup.

 

Padahal, persoalan sebenarnya mungkin sederhana: ada kebutuhan yang belum dibicarakan.

 

Karena itu, ketika mulai merasa sering dibandingkan, jangan buru-buru membalas dengan kalimat yang sama. Jangan pula memendamnya sampai berubah menjadi kebencian.

Baca Juga: Pasangan Mulai Menjauh? Bisa Jadi Ini yang Sedang Terjadi

Bicarakan ketika suasana sudah tenang. Jelaskan kalimat mana yang melukai dan bagaimana dampaknya.

 

“Saya tidak keberatan kalau kamu ingin saya berubah. Tapi tolong katakan apa yang kamu butuhkan tanpa menjadikan orang lain sebagai ukuran.”

 

Kalimat semacam itu membuka ruang untuk membicarakan persoalan sebenarnya.

 

Jika pasangan membutuhkan lebih banyak perhatian, bicarakan seperti apa bentuk perhatian yang diharapkan. Jika masalahnya mengenai keuangan, pekerjaan, komunikasi atau waktu bersama, selesaikan masalah tersebut secara langsung. Jangan biarkan nama orang ketiga menjadi senjata dalam setiap pertengkaran.

Masa lalu memang bagian dari perjalanan seseorang. Tetapi hubungan baru membutuhkan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Pasangan sekarang tidak seharusnya terus menjalani hubungan dengan bayang-bayang orang yang sudah pergi.

 

Perbandingan juga perlu dibedakan dari kritik. Kritik yang spesifik dapat membantu seseorang memahami apa yang perlu diperbaiki. Sebaliknya, perbandingan yang berulang dapat membuat seseorang merasa dirinya selalu kalah, bahkan sebelum diberi kesempatan untuk memperbaiki keadaan.

Pada akhirnya, tidak ada hubungan yang selalu sempurna. Ada kekurangan, perbedaan dan kekecewaan yang harus dihadapi bersama.

Tetapi mencintai seseorang bukan berarti memaksanya menjadi salinan dari orang lain.

Sebab ada luka yang tidak meninggalkan memar, tidak mengeluarkan darah, dan tidak terlihat oleh siapa pun.

Luka itu muncul ketika orang yang paling kita cintai justru membuat kita bertanya setiap malam:

“Sebenarnya, apa yang kurang dari diriku sampai aku harus selalu dibandingkan?” (RS)