MEDAN – Debu yang menempel di dinding kamar anak kerap luput dari perhatian orang tua.
Padahal, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan anak, terutama memicu gangguan pernapasan dan memperparah alergi jika kebersihan ruangan tidak terjaga.
Dokter anak Elia Nova mengatakan, debu yang menumpuk di dinding, langit-langit, dan sudut kamar dapat menjadi sumber partikel halus yang mudah terhirup anak, terutama balita yang sistem pernapasannya masih berkembang.
“Debu rumah tangga bisa mengandung tungau, jamur, dan partikel mikro yang berisiko menimbulkan batuk berkepanjangan, pilek berulang, hingga memperberat asma dan alergi pada anak,” ujar Elia Nova, Senin (5/1/2025).
Menurutnya, kamar anak yang jarang dibersihkan, minim ventilasi, serta lembap akan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Partikel debu dapat kembali beterbangan ke udara saat anak bermain atau saat terjadi perubahan sirkulasi udara di dalam kamar.
Ia menegaskan, debu memang bukan penyebab langsung penyakit infeksi seperti tuberkulosis (TBC). Namun, lingkungan yang kotor dan sirkulasi udara yang buruk dapat melemahkan daya tahan tubuh anak sehingga lebih rentan terhadap berbagai penyakit pernapasan.
“Pencegahan paling sederhana adalah rutin membersihkan kamar anak, termasuk dinding, membuka jendela setiap pagi agar sinar matahari masuk, serta memastikan ventilasi udara berfungsi baik,” katanya.
Ia juga menyarankan orang tua untuk menggunakan lap basah saat membersihkan dinding agar debu tidak beterbangan, serta menghindari penumpukan barang yang dapat menjadi sarang debu di kamar anak.
Jika anak mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, sesak napas, atau alergi yang sering kambuh, orang tua dianjurkan segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.(RS)