BUKAN TAHAN BANTUAN! Ini Penjelasan Lengkap Soal Kontainer Viral Relawan Jatim untuk Aceh
MEDAN – Beredar video viral yang menyebut bantuan kemanusiaan relawan asal Malang, Jawa Timur, “dipersulit” dan “ditahan” di Sumatera Utara. Pemerintah Provinsi Sumut angkat bicara dan membantah tegas tudingan tersebut. Kepala Posko Darurat Bencana Sumut, Basarin Yunus Tanjung, membeberkan kronologi lengkapnya.
Kronologi: 11 Kontainer Masuk, 2 Klaim Milik Relawan
Basarin menjelaskan, pada 17, 18, dan 20 Desember, Posko Sumut menerima 11 kontainer bantuan dari Pelni yang diklaim sebagai bantuan Pemprov Jatim. Kontainer-kontainer ini dibongkar di Gedung Serba Guna (GSG) untuk proses logistik.
“Setelah pembongkaran, datang relawan dari Malang yang menyatakan 2 dari 11 kontainer itu milik mereka,” jelas Basarin. Posko lalu meminta manifest atau daftar rinci isi kontainer untuk verifikasi. Proses pengecekan barang pun dilakukan di GSG.
Biaya Rp 2,4 Juta: Bukan dari Pemprov, Tapi Biaya Angkut Pelni
Persoalan muncul terkait biaya angkut dari Pelabuhan Belawan ke GSG sebesar Rp 2,4 juta per kontainer. Basarin menegaskan, biaya itu murni biaya operasional jasa angkut PT Pelni Medan, bukan pungutan dari Pemprov Sumut.
“Kami tidak ikut menentukan atau menerima uang tersebut. Murni antara relawan dan Pelni sebagai pihak pengangkut,” tegasnya. Pihak posko telah memfasilitasi dengan memberikan kontak Pelni untuk penjelasan langsung.
Pertemuan Ricuh & Status Terkini Bantuan
Untuk menyelesaikan masalah, diadakan pertemuan antara Pemprov Sumut, Pelni, dan relawan pada Senin (29/12). Suasana tegang dalam pertemuan itu yang terekam dan viral di media sosial.
“Itu suara-suara keras dalam diskusi. Intinya, tidak ada bantuan yang sengaja ditahan,” kata Basarin. Ia memastikan, bantuan dari Relawan Malang dan Gimbal Alas Indonesia telah berangsur dikirim ke Aceh dan sebagian sudah tiba di Tamiang. Proses penyaluran sedang berjalan.
Kesimpulan: Murni Masalah Administrasi dan Komunikasi
Pemprov Sumut menegaskan tidak pernah mempersulit atau menahan bantuan. Isu ini bermula dari kebutuhan verifikasi barang dan klarifikasi biaya logistik pihak ketiga (Pelni). Kini, proses telah berjalan lancar dan bantuan sedang diteruskan ke korban bencana di Aceh. (Rel)