Kiamat di Teheran? Trump Siapkan Serangan Mematikan Gulingkan Khamenei Usai “Banjir Darah”
JAKARTA – Dunia internasional diguncang laporan mengerikan dari dalam Iran. The Economist mengungkap pemandangan “banjir darah” dengan kamar mayat penuh sesak dan mayat dalam kantong berserakan di trotoar, diduga korban pembantaian massal oleh rezim terhadap demonstran.
Ribuan nyawa sipil dikabarkan melayang, memicu ancaman serius dari Gedung Putih.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka melontarkan ancaman “tindakan sangat kuat” dan mendorong eskalasi protes. Intelijen AS dikabarkan sedang mempertimbangkan opsi militer langsung, dari serangan terbatas hingga “pemenggalan politik” untuk menggulingkan kekuasaan Mullah yang telah berkuasa 47 tahun pimpinan Ali Khamenei.
Eskalasi kekerasan mematikan ini dipicu oleh respons Khamenei yang menggunakan kekuatan penuh. Garda Revolusi dan milisi bersenjata dikerahkan dengan sepeda motor dan penembak jitu (sniper), membidik area vital seperti wajah para pengunjuk rasa yang meneriakkan slogan anti-diktator.
AS memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan presisi dengan bom dan rudal ke situs-situs strategis Garda Revolusi.
Namun, kartu ini sarat risiko maha dahsyat. Iran memiliki baterai rudal jarak jauh yang mampu membalas serangan ke seluruh Timur Tengah, berpotensi memicu perang regional skala besar yang tak terkira.
Baca Juga : Tragedi Kemanusiaan: 500 Jiwa Melayang dalam Gelombang Protes Terbesar Iran Sejak 2022
Analis memperingatkan, keruntuhan rezim Teheran bisa membuka Pandora’s Box: Iran berpotensi terjerumus ke dalam perang saudara ala Suriah atau pecah seperti Yugoslavia, diperparah dengan adanya kelompok separatis dan program nuklir yang belum jelas nasibnya.
Selain opsi militer, AS juga merangkap strategi hybrid dengan dukungan diam-diam kepada tokoh oposisi di pengasingan, Reza Pahlavi, serta menyelundupkan perangkat Starlink untuk membantu warga Iran membobol blokade internet pemerintah.
Saat ini, dunia menanti dengan cemas. Apakah Trump akan menarik pelatuk serangan yang bisa mengubah peta geopolitik Timur Tengah selamanya?
Ataukah tekanan diplomatik dan dukungan rahasia kepada oposisi akan menjadi jalan utama? Nasib Iran berada di ujung tanduk, antara revolusi, intervensi, atau kehancuran. (FD)