Darah dan Minyak: Ketika Timur Tengah Meletup, Ekonomi Global Terpanggang

237

JAKARTA – Mimpi buruk yang selama ini hanya menghantui ruang-ruang simulasi para analis energi, kini mengetuk pintu depan dunia.

Apa yang sebelumnya dianggap sebagai skenario ekstrem terlalu mahal, terlalu berisiko, bahkan bagi aktor sekaliber Iran perlahan tapi pasti menjadi kenyataan pahit.

Selama bertahun-tahun, para pengamat memetakan dua titik rawan utama jika konflik di Timur Tengah benar-benar meledak: serangan ke jantung infrastruktur energi negara-negara Teluk, dan yang lebih menakutkan, penutupan Selat Hormuz.

Jalur sempit ini bukan sekadar titik di peta, melainkan nadi energi dunia. Setiap hari, sepertiga perdagangan minyak laut global dan seperlima pasokan LNG (gas alam cair) merayap melewatinya.

Hingga akhir Februari lalu, keyakinan bahwa kedua skenario ini tidak akan terwujud masih cukup kuat. Iran dinilai terlalu banyak rugi: hubungan dengan tetangganya yang kaya minyak, amarah China sebagai pembeli utama, hingga risiko serangan balik ke wilayahnya sendiri. Tapi hitung-hitungan dingin itu runtuh dalam semalam.

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan pimpinan tertinggi Iran mengubah segalanya.

Tekanan internal yang luar biasa membuat rezim di Teheran seolah tak punya pilihan selain memainkan kartu paling berbahaya yang mereka miliki: energi.

Dalam hitungan hari, proyektil Iran menghujani fasilitas-fasilitas vital. Kilang terbesar Arab Saudi, pusat pencairan gas di Qatar, kilang minyak di Kuwait, hingga zona industri minyak Fujairah di UEA menjadi sasaran.

Baca Juga : Korban Tewas di Iran Tembus 1.000 Jiwa! Perang Timur Tengah Memanas, Israel-AS Gencar Luncurkan Serangan

Dua fasilitas pertama dilaporkan lumpuh total. Di saat yang sama, Selat Hormuz, yang biasanya ramai dilintasi puluhan kapal tanker setiap hari, berubah menjadi zona terlarang. Garda Revolusi Iran tak hanya menutupnya, tapi juga mengancam akan membakar kapal mana pun yang berani melintas. Perusahaan asuransi pun menarik diri, membuat para pemilik kapal enggan berlayar.

Dunia langsung bereaksi dengan panik. Harga minyak Brent melesat 14% hanya dalam beberapa hari, menyentuh US$83 per barel. Namun, angka itu mungkin hanya permulaan.

Kenaikan yang lebih mencengangkan terjadi di pasar gas Eropa, yang melonjak lebih dari 70% hanya dalam sepekan. Pasar yang awalnya meremehkan, mengira gangguan ini hanya akan berlangsung beberapa hari, kini harus mengkalkulasi ulang perhitungan mereka. Realitas baru mulai terbentuk: krisis ini mungkin akan panjang dan berdarah.

Di balik layar, kekacauan distribusi menjadi mimpi buruk baru. Dari rata-rata 52 kapal tanker yang biasa melintasi Hormuz setiap hari di bulan Februari, angkanya ambruk menjadi hanya empat kapal pada 2 Maret.

Sekitar 14 juta barel minyak mentah dan produk olahan yang biasanya mengalir lancar, kini terhenti. Arab Saudi dan UEA memang memiliki pipa alternatif, tapi itu hanya mampu mengalihkan seperempat dari total volume. Sisanya? Tak punya jalur evakuasi.

Analisis JPMorgan melukiskan situasi yang mencekik. Irak, misalnya, hanya punya ruang penyimpanan untuk tiga hari produksi sebelum terpaksa memangkas ekspor besar-besaran.

Kuwait sedikit lebih longgar dengan cadangan 14 hari. Jika ditotal, sekitar 5 juta barel per hari—atau 5% dari produksi global—terancam menguap dari pasar. Irak sudah mulai mengurangi produksinya sebanyak 1,5 juta barel per hari.

Kepanikan pun menjalar ke seluruh rantai pasok. Para pembeli di Asia, yang selama ini menggantungkan diri pada minyak Teluk, kini berbondong-bondong mencari sumber alternatif.

Minyak dari Brasil, yang biasanya dijual dengan premi kecil, tiba-tiba ditawarkan dengan keuntungan hingga tiga kali lipat. China, Jepang, dan Korea Selatan, meski memiliki cadangan strategis untuk beberapa bulan, sadar bahwa mereka tak bisa selamanya bergantung pada stok darurat.

Minyak Teluk masih menjadi tulang punggung konsumsi mereka. Di China, gejolak ini bahkan sempat menghentikan perdagangan kontrak berjangka minyak setelah harga menyentuh batas kenaikan harian.

Jika gangguan berlangsung lebih dari sepekan, para analis memprediksi harga Brent akan mendekati US$100 per barel. Jika berbulan-bulan, bukan tidak mungkin kita akan melihat angka US$120, menyamai level tertinggi pasca-invasi Ukraina tiga tahun lalu.

Sayangnya, pasokan darurat global diperkirakan hanya mampu menambah 1-2 juta barel per hari dan butuh waktu setidaknya enam bulan untuk direalisasi. Terlalu sedikit, terlalu lambat.

Situasi gas alam bahkan lebih kritis. Kompleks pencairan gas terbesar di dunia, Ras Laffan di Qatar, yang memasok sekitar 17% ekspor LNG global, terpaksa berhenti beroperasi.

Akibatnya, hampir 30 kapal tanker LNG yang dijadwalkan memuat kargo pada Maret ini kini hanya bisa terombang-ambing di Laut Arab dan Samudra Hindia. QatarEnergy telah mengirimkan pemberitahuan force majeure kepada para pembelinya.

Negara-negara seperti Pakistan, India, dan China yang sangat bergantung pada pasokan Qatar kini berada di ujung tanduk. Pakistan, misalnya, mendapat 99% impor LNG-nya dari sana.

Tak heran, biaya pengiriman LNG dari Amerika Serikat ke Asia langsung melambung ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Eropa juga tak bisa bernapas lega. Seperlima impor dieselnya melewati Hormuz, dan harga gas di Benua Biru diperkirakan akan segera menembus €100 per MWh jika krisis berlarut.

Konsekuensi ekonomi dari guncangan ini sangat nyata. Dana Moneter Internasional (IMF) memiliki rumusannya: setiap kenaikan 10% harga minyak akan memangkas pertumbuhan PDB global sebesar 0,15 poin persentase dan menambah inflasi sebesar 0,4 poin di tahun berikutnya.

Jika harga bertahan di level US$100, pertumbuhan global bisa terpangkas 0,4 poin dan inflasi bertambah 1,2 poin. Angka yang cukup untuk membuat para gubernur bank sentral di seluruh dunia bergadang.

Negara-negara pengimpor energi besar seperti India dan Thailand adalah yang paling rentan. Mereka harus merogoh kocek hingga 3-5% dari PDB hanya untuk impor energi, dan cadangan minyak mereka hanya cukup untuk 20-25 hari.

Defisit fiskal dipastikan melebar, karena pemerintah tak punya pilihan selain menahan harga domestik dengan subsidi besar-besaran.

Bank Sentral Eropa juga telah menghitung dampaknya. Kenaikan harga minyak 10% akan menambah inflasi 0,4 poin secara langsung. Pelaku pasar pun mulai mengubah ekspektasi mereka tentang pemangkasan suku bunga. Angin segar pelonggaran moneter tampaknya harus ditunda.

Amerika Serikat mungkin menjadi negara besar yang paling ringan dampaknya. Pasar gas domestiknya relatif tertutup dari gejolak global, dan dengan produksi minyak yang tinggi, mereka memiliki cadangan strategis 415 juta barel sebagai bantalan.

Namun, dampak politiknya bisa lebih rumit. Kenaikan harga BBM akan membebani rumah tangga dan menjadi isu panas menjelang pemilu sela. Tekanan pada pemerintah untuk bertindak akan semakin besar.

Di tengah kekacauan ini, Presiden AS Donald Trump telah bersuara. Pemerintahannya berjanji menyediakan jaminan asuransi bagi kapal dan, jika perlu, mengerahkan angkatan laut untuk mengawal tanker.

Sebuah sinyal bahwa konflik di lapangan kini telah sepenuhnya menjalar ke ranah ekonomi, dengan taruhannya tak lain adalah stabilitas pertumbuhan dan inflasi global. Dunia kini menahan napas, menunggu apakah mimpi buruk ini akan segera berakhir atau justru baru dimulai. (FD) 

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com