MEDAN – Eric Strada Ginting, seorang personel Dinas Perhubungan Medan menjadi korban penganiayaan oleh juru parkir (jukir) liar di Jalan Jawa, kemarin.
Ini merupakan bukti bahwa mereka, premanisme berkedok jukir liar masih tetap eksis di jalanan. Ultimatum yang disampaikan kepolisian tidak membuat nyali mereka (jukir liar) ciut.
Bahkan malah menjadi. Apalagi kasus penganiayaan Eric Ginting tidak jauh dari markas Polsek Medan Timur. Waduh gawat ini. Kok jukir liar berkeliaran di Polsek Medan Timur dibiarin.
Tentu publik masih ingat. Di Mei 2025 Polrestabes Medan dan jajaran menjaring ratusan premanisme berkedok jukir liar. Polisi menganggap keberadaan premanisme menjadi pemicu keributan, keonaran bahkan tindak pidana.
Tapi tetap saja mereka (jukir) liar ini tidak takut dengan ultimatum kepolisian. Dari kasus ini Kapolsek Medan Timur Kompol Agus Butarbutar yang hanya terima laporan dan tidak melakukan antisipasi mengatakan korban masih di rawat di rumah sakit.
Praktisi Hukum, Irvan Fadli Lubis melihat aksi penganiayaan yang dialami oleh Eric Strada (Dinas Perhubungan Medan) bukti lemahnya kepolisian dalam mengantisipas aksi premanisme di jalanan.
“Apakah penertiban premanisme cuma sementara waktu saja? Apa tidak berkelanjutan. Kita tahu sendiri premanisme biang keonaran, keributan, perkelahian bahkan berujung tindak pidana. Apalagi penganiayaan Eric Ginting tidak jauh dari Polsek Medan Timur,” ungkap Irvan yang juga pengacara ini.
Mungkin, kasus Eric Ginting bukan satu-satunya menjadi korban penganiayaan oleh preman berkedok jukir. Tentu, ini menjadi perhatian serius untuk kepolisian.
“Mau sampai kapan premanisme berkedok jukir dibiarkan. Tindakan tegas kepolisian secara berkelanjutan bisa membuat ruang gerak premanisme sempit. Mari kita dukung Polri tetap memberantas premanisme,” tutup Irvan. (FD)