Gempuran Iran Hantam Komando Israel: Kilas Balik 25 Hari Neraka di Timur Tengah
MEDAN – Dunia kembali dibuat bergetar. Setelah lebih dari tiga pekan pasca-bom besar yang menghantam jantung Tehran, eskalasi militer di Timur Tengah memasuki babak baru yang lebih brutal.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan dimulainya operasi penargetan sistematis terhadap pasukan Israel, tidak hanya di perbatasan utara, tetapi jauh menukik ke Jalur Gaza, Palestina.
Dalam sebuah pernyataan tegas yang dikutip Middle East Monitor, Rabu (25/3/2026), IRGC mengonfirmasi bahwa gelombang serangan ofensif dengan sandi True Promise 4 telah diluncurkan.
Operasi ini disebut sebagai fase awal dari penghancuran titik-titik konsentrasi pasukan Zionis, baik di wilayah utara Palestina maupun di kantong perlawanan, Gaza.
“Operasi-operasi ini adalah awal dari penargetan tempat-tempat berkumpulnya pasukan Zionis di Palestina utara dan Jalur Gaza,” demikian bunyi rilis militer Iran.
Yang lebih mencengangkan, IRGC menyebut bahwa serangan presisi tersebut berhasil melumpuhkan pusat komando militer Israel di utara kota Safed.
“Titik-titik strategis dan pusat-pusat militer [Israel] terkena dampak signifikan,” lanjut pernyataan tersebut.
Serangan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia adalah puncak dari reaksi berantai kekerasan yang dimulai pada 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat di bawah komando Presiden Donald Trump bersama Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran. Tujuan saat itu jelas: menggulingkan rezim dan melumpuhkan infrastruktur nuklir Tehran.
Namun, serangan kilat itu gagal mencapai target utamanya. Tragedi kemanusiaan justru terjadi ketika Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, gugur bersama ribuan warga sipil dalam gelombang serangan pertama. Kematian pemimpin karismatik itu bukannya melumpuhkan Iran, melainkan menjadi titik balik perlawanan.
Dalam 24 jam pertama pasca-pengeboman AS-Israel, Iran membalas dengan sengit. Rudal dan drone diluncurkan ke pangkalan-pangkalan Israel dan aset-aset militer Amerika yang tersebar di negara-negara Teluk.
Diplomasi perang pun bergeser ke ranah ekonomi ketika Iran mengambil langkah nekat namun strategis menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global.
Langkah ini menciptakan guncangan ekonomi yang menghantam keras upaya AS dan Israel untuk mendapatkan dukungan global. Meski digempur habis-habisan dan diprediksi akan runtuh, kepemimpinan Iran menunjukkan resiliensi luar biasa.
Sumber-sumber intelijen menyebut bahwa alih-alih merayakan kemenangan, Presiden Donald Trump kini terlihat frustrasi dan putus asa menghadapi perang atrisi yang justru memperkuat poros perlawanan di kawasan.
Dengan berhasil ditargetkannya komando militer Israel di Gaza dan Safed oleh IRGC, peta kekuatan di Timur Tengah kembali bergeser.
Konflik yang semula digambarkan sebagai “operasi perubahan rezim” oleh Washington, kini telah bertransformasi menjadi perang multi-front yang menguras sumber daya, dengan Iran membuktikan bahwa mereka masih memiliki “tangan panjang” yang mampu menjangkau jantung musuh. (FD)