Ancaman Baru Konflik Global: Houthi Resmi Buka Front Perang Lawan Israel
MEDAN – Peta konflik Timur Tengah kembali bergeser ke fase yang lebih berbahaya. Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman secara resmi “turun gunung” mendukung Iran dalam konflik terbuka melawan Israel dan Amerika Serikat.
Langkah ini bukan sekadar eskalasi militer, melainkan ancaman sistemik yang siap mengguncang fondasi perekonomian global.
Dengan bergabungnya Houthi faksi yang menguasai wilayah terpadat di Yaman—konflik yang awalnya terpusat di sekitar Teluk Persia kini melebar hingga ke Laut Merah.
Hal ini menciptakan tekanan di dua titik paling vital dalam rantai pasok energi dunia Selat Hormuz yang kini diklaim Iran nyaris tertutup, dan Selat Bab al-Mandab yang berada di bawah ancaman langsung Houthi.
Babak Baru: Rudal Houthi dan Serangan ke Fasilitas AS
Mengutip The Guardian, Houthi mengklaim telah meluncurkan rudal balistik ke “lokasi militer Israel yang sensitif.” Kelompok tersebut berjanji akan melanjutkan operasi sampai “agresi” di semua front berakhir. Namun, dampak serangan ini sudah terasa jauh sebelum pernyataan resmi dirilis.
Media AS melaporkan bahwa serangan rudal dan drone menghantam Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, melukai setidaknya 12 tentara AS dua di antaranya dalam kondisi kritis.
Tak hanya itu, bandara internasional di Kuwait juga menjadi sasaran drone, menyebabkan kerusakan signifikan pada sistem radar. Serangan ini menunjukkan kemampuan Houthi yang kini menjadi “tombak” Iran untuk menjangkau target lebih luas.
Meskipun AS mengklaim telah menghancurkan kekuatan militer Iran, sumber intelijen yang dikutip Reuters menyebut fakta berbeda. Washington diperkirakan hanya mampu menghancurkan sepertiga dari persenjataan rudal dan drone Iran. Artinya, kekuatan lawan masih signifikan dan siap melancarkan serangan lanjutan.
Ancaman Nyata bagi Ekonomi Dunia
Jika Selat Hormuz adalah “leher botol” minyak Teluk, maka Selat Bab al-Mandab adalah “gerbang selatan” yang tak kalah krusial. Terletak di antara Yaman dan Tanduk Afrika, selat ini merupakan jalur utama bagi kapal tanker minyak dan barang dagangan yang melintasi Terusan Suez.
Baca Juga : Gempuran Iran Hantam Komando Israel: Kilas Balik 25 Hari Neraka Di Timur Tengah
Dengan masuknya Houthi, penutupan Bab al-Mandab kini menjadi ancaman yang realistis. Dampaknya akan sangat brutal bagi ekonomi global:
1. Guncangan Harga Energi: Gangguan di dua selat vital secara bersamaan berpotensi melambungkan harga minyak dunia ke level yang tidak terkendali.
2. Rantai Pasok Terganggu: Krisis di Laut Merah akan memperpanjang waktu tempuh kapal kargo, mengerek biaya logistik dan memicu inflasi global.
3. Krisis Kemanusiaan Terulang: Konflik ini mengancam memicu kembali perang saudara di Yaman yang sempat mereda sejak gencatan senjata 2022, mengembalikan penderitaan kemanusiaan yang dahsyat.
Upaya Diplomatik yang Rentan
Di tengah panasnya situasi, Pakistan mengambil inisiatif menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara kuat Timur Tengah pada Senin ini.
Pertemuan yang mempertemukan menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Mesir ini diharapkan mencari pendekatan regional untuk mengakhiri konflik. Namun, absennya pihak-pihak yang bertikai dalam pertemuan tersebut membuat langkah ini diragukan efektivitasnya.
Sementara itu, Arab Saudi yang sebelumnya telah mengalihkan ekspor minyak melalui pipa ke Laut Merah, kini berada dalam posisi sulit. Komentator Saudi menyebut, jika rute tersebut juga terancam oleh rudal Houthi, Riyadh bisa terseret langsung ke dalam pusaran perang.
Farea Al-Muslimi, peneliti dari Chatham House, menyebut keputusan Houthi sebagai “eskalasi serius dan sangat mengkhawatirkan.” Ia menegaskan, “Dampak potensial terhadap rute maritim komersial utama, terutama di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, tidak bisa diremehkan. Infrastruktur ekonomi dan militer vital di seluruh Teluk kini berada dalam ancaman nyata.”
Dengan Iran yang mulai membuka akses bagi kapal-kapal Pakistan untuk melintasi selat di tengah tekanan blokade, dunia kini menunggu apakah konflik ini masih bisa diredam, atau justru akan menjerumuskan kawasan ke dalam perang regional yang lebih luas dan berkepanjangan. (FD)