Iran Bantah Keras Klaim Trump: Tidak Ada Negosiasi, Ini Manipulasi Energi!
MEDAN – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru yang membingungkan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penghentian sementara serangan militer, sambil mengklaim telah terjadi “percakapan produktif” dengan Iran.
Namun, respons yang dilontarkan Teheran justru kontras tajam, membantah habis-habisan adanya negosiasi dan menuduh Washington melakukan manuver licik di pasar energi.
Trump: “Kami Hentikan Serangan”
Dalam unggahan di media sosialnya pada Senin (24/3/2026) waktu setempat, Trump menyatakan dirinya telah memerintahkan “departemen perang” untuk menunda semua serangan terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Iran.
Ia mengklaim bahwa selama dua hari terakhir, terjadi pembicaraan yang “sangat baik” menuju resolusi total atas permusuhan yang telah berlangsung selama tiga minggu di kawasan tersebut.
“Saya telah memerintahkan departemen perang untuk menunda semua serangan militer terhadap PLTU Iran,” tulis Trump, seraya menambahkan bahwa ada pembicaraan yang konstruktif untuk mengakhiri perang.
Teheran Sanggah: Tidak Ada Pembicaraan!
Klaim mengejutkan dari Gedung Putih ini langsung mendapat bantahan telak dari faksi politik tertinggi Iran. Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran sekaligus tokoh non-ulama paling berpengaruh di negara itu, secara terbuka membantah adanya pembicaraan diplomatik antara kedua negara.
Teheran bahkan menuduh Trump tengah melakukan “manipulasi ke pasar energi.” Tuduhan ini merujuk pada fluktuasi ekonomi yang terjadi pasca pernyataan Trump tersebut.
Sebelumnya, Presiden AS memang sempat mengancam akan membombardir pembangkit listrik Iran dan memberi batas waktu hingga Selasa malam untuk membuka Selat Hormuz jalur vital pengangkut 20% minyak dunia.
Menariknya, pernyataan “perdamaian” dari Trump justru diikuti dengan penurunan harga minyak dan lonjakan pasar saham, sebuah indikasi bahwa pasar merespons positif de-eskalasi, meskipun faktanya Iran membantah adanya kesepakatan.
Ada Pesan, Tapi Bukan Negosiasi
Melalui pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Iran mengakui adanya komunikasi, namun menolak menyebutnya sebagai negosiasi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa Iran hanya menerima pesan melalui “negara-negara sahabat” yang menyampaikan keinginan AS untuk berdialog.
“Selama beberapa hari terakhir, pesan diterima melalui beberapa negara sahabat yang menunjukkan permintaan AS untuk negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri perang,” ujar Baqaei, dikutip dari kantor berita resmi IRNA dan AFP.
Namun, ia menegaskan kembali posisi Teheran: “Kami membantah adanya negosiasi atau pembicaraan dengan Amerika Serikat selama 24 hari terakhir perang yang dipaksakan.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun saluran komunikasi tidak sepenuhnya tertutup dengan mediator pihak ketiga Iran menolak memberikan legitimasi politik kepada Trump dengan mengakui adanya “pembicaraan langsung” yang diklaim sebelumnya.
Analisis: Siapa yang Bermain?
Situasi ini menciptakan kebingungan di kancah internasional. Di satu sisi, Trump terlihat ingin menarik diri dari jurang perang terbuka menjelang dinamika politik domestik AS.
Di sisi lain, Iran bersikukuh bahwa tidak ada negosiasi resmi, menolak untuk terlihat “tunduk” pada tekanan maksimum yang selama ini dijalankan Washington.
Publik kini menunggu apakah ini sekadar manuver politik Trump untuk meredam gejolak harga energi menjelang musim pemilu, atau memang ada titik terang menuju penghentian konflik yang telah menguras stabilitas Timur Tengah.
Yang jelas, respons keras dari Parlemen dan Kemenlu Iran mengirim sinyal jelas bagi Teheran, perang belum berakhir, dan negosiasi hanyalah ilusi yang diciptakan oleh lawan. (FD)