Hancur Lebih dari 20 Gedung, 100 Kritis: Rudal Balasan Iran Bikin ‘Malam Pahit’ Netanyahu

127

TEHERAN – Dunia dikejutkan dengan eskalasi dahsyat di Timur Tengah. Serangan balasan yang dilancarkan Iran pada dini hari Ahad (22/3/2026) berhasil menembus jantung wilayah pendudukan Zionis Israel, menghancurkan infrastruktur vital dan memicu kekacauan besar di wilayah Arad hingga fasilitas nuklir strategis Dimona.

Peristiwa ini menandai fase baru dalam konflik regional, di mana sistem pertahanan udara Israel yang dikenal canggih disebut gagal mencegat rudal-rudal hipersonik buatan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

‘Malam yang Sulit’: Pengakuan Pahit Netanyahu

Pasca serangan yang melumpuhkan itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang juga masuk dalam daftar buronan penjahat perang Mahkamah Pidana Internasional (ICC), mengakui kepahitan yang dialami warganya.

Melalui akun media sosial resminya @IsraeliPM, Netanyahu menyebut, “Ini adalah malam yang sulit dalam peperangan untuk masa depan kita.”

Meski mengakui pukulan telak, Netanyahu tetap berapi-api. Ia bersumpah akan melanjutkan aksi ofensif terhadap Republik Islam Iran.

“Kami bertekad untuk terus menyerang musuh kami,” tegasnya, mengindikasikan bahwa siklus serangan balasan kemungkinan masih akan berlanjut.

Arad Hancur: Gedung 10 Lantai Rata dengan Tanah

Menurut laporan eksklusif Anadolu Agency, fokus utama serangan balasan Iran adalah wilayah Arad, yang terletak di selatan wilayah pendudukan. Dalam rentang waktu singkat, setidaknya 20 gedung dan bangunan dilaporkan hancur total.

Baca Juga : Inggris Resmi Izinkan AS Serang Iran dari Pangkalan Militer

Dokumentasi yang beredar luas di kanal Telegram dan media internasional menunjukkan pemandangan mengerikan.

Rudal-rudal yang diluncurkan Iran tidak hanya akurat, tetapi juga memiliki daya ledak tinggi hingga mampu meratakan bangunan bertingkat lebih dari 10 lantai dalam sekejap.

“Rudal-rudal Iran menghantam tanpa berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Zionis. Dampaknya menghancurkan sedikitnya 20 bangunan di Arad,” tulis Anadolu.

Korban jiwa dipastikan berjatuhan. Laporan sementara menyebutkan enam warga Zionis dipastikan tewas, sementara lebih dari 100 orang mengalami luka kritis dan harus dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi darurat. Otoritas Zionis bahkan dipaksa menerbitkan status darurat di seluruh rumah sakit Arad untuk mengantisipasi lonjakan korban.

Fasilitas Nuklir Dimona Dibombardir

Tak berhenti di Arad, Iran juga menghantam kawasan paling sensitif bagi Israel: Fasilitas Nuklir Dimona di gurun Negev. Al Jazeera melaporkan, rudal berdaya ledak besar yang ditembakkan IRGC menghantam tepat sasaran, menyebabkan ledakan spektakuler yang menghancurkan sebuah gedung tiga lantai di kompleks tersebut.

Akibat serangan di fasilitas nuklir ini, sedikitnya 39 warga Zionis mengalami luka kritis. Serangan ini dinilai sebagai pesan strategis bahwa Iran mampu menjangkau dan melumpuhkan aset-aset paling rahasia dan vital milik Israel.

Eskalasi Tak Terhindarkan: Balasan atas Natanz

Langkah Iran ini bukan tanpa sebab. Media Teheran mengonfirmasi bahwa serangan rudal ke Dimona dan Arad merupakan aksi balasan tegas atas agresi gabungan Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya menargetkan fasilitas pengayaan uranium Iran di Natanz pada Sabtu (21/3/2026).

Dengan rentetan peristiwa ini, ketegangan di Timur Tengah diprediksi akan mencapai puncaknya. Dunia kini menanti apakah Israel akan melaksanakan ancaman “serangan lanjutan” seperti yang dijanjikan Netanyahu, yang berpotensi memicu perang terbuka skala penuh di kawasan. (FD)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com