Bobby Sulap Pelabuhan Roro Jadi Raja Logistik Kepulauan, Harga Sembako Meluncur Turun?

114

NIAS – Kabar menggembirakan datang dari Kepulauan Nias. Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, baru saja meninjau langsung Pelabuhan Roro di Kota Gunungsitoli pada Kamis (16/7/2026).

Bukan sekadar kunjungan biasa, ini adalah langkah awal dari rencana ambisius: mengubah pelabuhan yang selama ini hanya melayani penumpang itu menjadi pusat distribusi logistik utama bagi seluruh Kepulauan Nias.

Bayangkan, selama ini warga Nias harus berhadapan dengan mahalnya harga kebutuhan pokok akibat rantai distribusi yang panjang dan biaya logistik yang tinggi. Nah, di sinilah peran strategis Pelabuhan Roro.

Kehadiran pusat logistik ini diharapkan menjadi simpul pengendali yang tidak hanya melancarkan arus barang dari luar, tetapi juga membuka pintu bagi komoditas unggulan lokal Nias untuk menembus pasar yang lebih luas.

“Ini bukan hanya soal mengirim barang masuk, tapi juga bagaimana komoditas lokal bisa kita distribusikan ke luar. Kalau ini tercapai, pengendalian harga termasuk inflasi tidak akan tergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar,” tegas Bobby Nasution dalam peninjauannya.

Apa sih yang membuat proyek ini begitu istimewa? Pelabuhan Roro Gunungsitoli sebenarnya sudah berdiri sejak 2019, dibangun oleh Kementerian Perhubungan.

Baca Juga : Gebrakan Bobby Nasution di Nias! Revitalisasi SMAN Unggulan Sukma Tembus Rp87 M

Baru pada Mei 2026, asetnya diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Kota Gunungsitoli. Dalam proses pengembangan menjadi pusat logistik, aset ini akan dikelola sementara oleh Pemprov Sumut.

Namun, kondisi pelabuhan saat ini masih jauh dari kata ideal. Kepala Dinas Perhubungan Sumut, Yuda Pratiwi Setiawan, mengungkapkan bahwa dermaga yang ada hanya sepanjang 90 meter dan selama ini hanya mampu menampung kapal penumpang kecil, seperti Kapal Mutiara, dengan jadwal tiga kali seminggu ke Aceh Singkil. Tentu saja, kondisi ini belum memungkinkan untuk bongkar muat logistik dalam skala besar.

Lantas, kapan mimpi ini terwujud? Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Sumut, Dikky Anugerah, memaparkan peta jalan yang jelas.

Pengembangan pelabuhan ini direncanakan berlangsung dalam tiga tahun dengan tahapan yang matang:

· Tahun 2026: Fokus pada persiapan perencanaan yang matang.
· Tahun 2027: Memasuki tahap persiapan teknis dan pembangunan infrastruktur.
· Tahun 2028: Penyelesaian operasional.
· Awal Tahun 2029: Pusat logistik ditargetkan sudah dapat beroperasi penuh.

Dengan target operasi pada 2029, masyarakat Nias bisa mulai merasakan dampaknya. Harga barang diharapkan lebih terkendali dan stabilitas ekonomi kawasan pun meningkat.

Proyek besar ini tidak akan berjalan tanpa dukungan semua pihak. Wali Kota Gunungsitoli, Sowa’a Laoly, menunjukkan komitmennya dengan menyatakan kesiapan pemerintah kota untuk menyediakan tambahan lahan yang dibutuhkan.

Saat ini, Pelabuhan Roro memiliki luas sekitar 2,5 hektare. “Sesuai komitmen awal, Pemerintah Kota Gunungsitoli siap menyiapkan kekurangan lahan yang diperlukan untuk mendukung pengembangan pelabuhan ini,” ujar Sowa’a.

Selain itu, skema pembiayaan pun sudah mulai disiapkan. Pemprov Sumut membuka opsi alternatif pendanaan, termasuk peluang kerja sama dengan BUMD maupun pihak swasta untuk pembangunan dan pengelolaan ke depan.

Kunjungan Bobby Nasution ke Pelabuhan Roro ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa Pemerintah Sumut serius mendorong pemerataan ekonomi dan konektivitas antarwilayah.

Dengan transformasi Pelabuhan Roro menjadi pusat logistik, masa depan Kepulauan Nias sebagai kawasan yang lebih mandiri dan sejahtera semakin terbuka lebar. (Rel)