Bukan Sekadar Bantuan: Ketika Kota yang Terluka Justru Jadi Penolong, Kisah Rico Waas dan Armia Fahmi yang Menggugah

179

MEDAN – Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa dalam kesulitanlah kita mengenal siapa sahabat sejati. Pepatah itu terbukti nyata dalam pertemuan penuh haru antara Wali Kota Medan, Rico Waas, dan Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, di Rumah Makan Pagi Sore, Jalan Kejaksaan, Medan Petisah, kemarin.

Namun, di balik pertemuan hangat itu tersimpan kisah yang jauh lebih dalam dari sekadar seremoni birokrasi.

Ini adalah kisah tentang empati yang lahir dari luka yang sama, tentang kepemimpinan yang tidak pernah berhenti di batas wilayah, dan tentang solidaritas yang mengalahkan ego sektoral.

Akhir November 2025 menjadi bulan kelam bagi Sumatera bagian utara. Banjir bandang melanda berbagai daerah, tak terkecuali Kota Medan.

Data resmi mencatat, 19 dari 21 kecamatan di Medan terendam banjir, berdampak pada sedikitnya 85.000 warga yang harus mengungsi. Lumpur tebal menutupi jalanan, ribuan rumah terendam, dan aktivitas kota hampir lumpuh total.

Namun di tengah kota yang sedang “terluka” parah, Wali Kota Rico Waas justru menerima kabar yang lebih memilukan dari daerah tetangga Kabupaten Aceh Tamiang dilaporkan mengalami kerusakan yang jauh lebih fatal.

Infrastruktur vital hancur, dokumen penting warga hilang diterjang air, dan hampir seluruh wilayah terendam.

Baca Juga : Pemko Medan Kirim 14 Unit Alat Berat dalam 3 Tahap, Dukung Penuh Pemulihan Bencana Banjir Aceh Tamiang

“Kami mendengar kabar bahwa kondisi di Aceh Tamiang sangat fatal. Betul-betul terendam, dan masyarakat serta Pak Bupati sendiri saat itu sangat membutuhkan bantuan,” kenang Rico Waas dengan suara bergetar.

Di tengah himpitan bencana, Rico Waas justru melihat momentum yang tepat. Saat itu bertepatan dengan Hari Bela Negara.

Baginya, membela negara tidak selalu berarti mengangkat senjata di medan perang. Membela negara juga berarti membela sesama anak bangsa yang sedang tertimpa musibah.

“Saat itu saya bilang, ‘Oke kita ke Tamiang. Ayo kita bantu Tamiang.’ Apa yang kita punya sekarang? Apa yang dibutuhkan oleh Aceh Tamiang? Pembersihan. Maka pemadam kebakaran dan alat berat dari Dinas SDABMBK langsung kita turunkan,” tegas Rico Waas dengan nada mantap.

Tanpa pikir panjang, personel Damkar dan alat berat dari Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan langsung dikerahkan ke Aceh Tamiang.

Yang membuat bantuan ini istimewa bukan hanya kecepatannya, tetapi juga ketahanannya. Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, dengan mata berkaca-kaca mengungkapkan bahwa tim dari Medan bukan sekadar datang dan pergi. Mereka bertahan hingga lebih dari empat bulan untuk membantu proses evakuasi dan pembersihan material banjir.

“Yang pertama datang membantu kami adalah dari Pemko Medan. Petugas Damkar dan alat berat PU sangat membantu membersihkan infrastruktur vital kami yang hancur akibat bencana dahsyat tersebut. Hebatnya, mereka bekerja di Tamiang selama lebih dari empat bulan,” ungkap Armia Fahmi dengan nada haru.

Armia menceritakan bagaimana koordinasi yang fleksibel dan penuh empati dari Wali Kota Medan membuat masa tugas tim penyelamat terus diperpanjang.

Bukan hanya personel dan armada, Pemko Medan juga memberikan dukungan stimulus anggaran untuk mempercepat proses pemulihan.

Begitu besarnya dampak bantuan yang diberikan, Armia Fahmi bersama jajaran lengkap Pemkab Aceh Tamiang termasuk Wakil Bupati Ismail dan Sekretaris Daerah Syuibun Anwar secara khusus terbang ke Medan hanya untuk satu tujuan: mengucapkan terima kasih.

“Kami datang ke mari, memboyong seluruh perangkat daerah, Wakil Bupati, dan Pak Sekda, khusus untuk menjumpai Pak Wali Kota guna mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya,” tambah Armia dengan penuh hormat.

Pertemuan yang juga dihadiri oleh Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap serta jajaran pimpinan perangkat daerah dari kedua wilayah ini menjadi simbol nyata persaudaraan antardaerah yang jarang terlihat dalam panggung politik Indonesia.

Meskipun sejumlah bantuan telah dikirimkan, Rico Waas menyadari bahwa pemulihan Aceh Tamiang tidaklah mudah. Kerusakan massal pada rumah warga, dokumen penting, hingga aset pemerintah membuat daerah tersebut seolah harus melakukan start from zero untuk membangun kembali semuanya dari bawah.

Namun ia tetap optimis. “Kami percaya dan optimistis Aceh Tamiang di bawah kepemimpinan Bapak Armia Fahmi akan segera bangkit dan jauh lebih jaya,” ungkap Rico Waas penuh keyakinan.

Satu hal yang ditekankan oleh Rico Waas sepanjang pertemuan: “Kami tidak mencari penghargaan atau timbal balik apa pun. Ini murni bicara tentang kemanusiaan dan persahabatan”.

Di tengah hiruk-pikuk politik dan birokrasi yang sering kali terjebak pada ego sektoral, kisah Rico Waas dan Armia Fahmi adalah pengingat bahwa pada akhirnya, kita semua adalah satu: anak bangsa yang saling membutuhkan terutama di saat-saat paling kelam sekalipun. (Rel)