Bukan Sekadar Mengurus Jenazah, Ini Mulianya Peran Bilal Mayit

117

MEDAN – Ada profesi yang mengawal manusia sejak napas pertama: dokter dan bidan. Namun, tahukah Anda, siapa yang mengawal manusia di penghujung hayatnya?

Wali Kota Medan, Rico Waas, menegaskan bahwa bilal mayit mereka yang mengurus jenazah memiliki peran sama mulianya dengan tenaga kesehatan.

“Jika sejak lahir seseorang ditangani dokter dan bidan, maka ketika meninggal, khususnya umat Islam, ada bilal mayit yang bertugas mengurus jenazah hingga pemakaman,” ujar Rico Waas saat menerima audiensi pengurus Bilal Mayyit Indonesia (BMI) Kota Medan di Rumah Dinas Wali Kota Medan, kemarin.

Turut hadir Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum selaku Penasehat BMI, Kadis Sosial Khoiruddin Rangkuti, Kaban Kesbangpol Andi Mario, dan Kabag Kesra Agus Maryono.

Bagi Rico, kehadiran bilal mayyit bukan sekadar formalitas. “Keberadaan mereka sangat berharga. Jenazah dimandikan dengan benar dan didoakan banyak orang. Tidak semua orang memiliki kesempatan mendapatkan pelayanan seperti itu,” katanya penuh haru.

Karena itulah, profesi ini memikul tanggung jawab besar bukan hanya moral, tetapi juga spiritual yang menuntut pemahaman syariat dan standar operasional (SOP) yang benar.

Rico Waas menekankan bahwa standardisasi menjadi kunci profesionalisme. “Kalau dijalankan sesuai SOP, kualitasnya akan semakin profesional. Pemahaman tata cara bilal mayyit harus terus diperkuat,” tegasnya.

Apalagi, ia menyambut baik inisiatif BMI Kota Medan yang telah menyusun buku panduan tata cara pengurusan jenazah sebagai pedoman baku bagi para bilal mayit di lapangan.

Baca Juga : Rico Waas Buka Jalan RS Vina Estetika ke BPJS, Fokus Layani Pasien Kanker!

Namun, ada satu masalah serius yang mengintai: regenerasi. Ketua BMI Kota Medan, Amir Husin, mengungkapkan bahwa saat ini sebagian besar bilal mayit adalah kalangan lanjut usia.

“Regenerasi ini mendesak,” ujarnya. Karena itu, BMI gencar menggelar pelatihan yang menyasar pemuda, remaja, hingga guru sekolah. Mereka juga telah menjalankan program roadshow ke berbagai kecamatan; di Medan Johor, sambutan masyarakat sangat antusias.

“Kami ingin semakin banyak masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengurus jenazah sesuai syariat,” tambah Amir.

BMI sendiri berkantor di Jalan Karya, Karang Berombak, dan telah berkirim surat ke Kesbangpol Kota Medan.

Tak berhenti di situ, Pemko Medan berencana menyediakan paket fardhu kifayah bagi masyarakat kategori desil 1 dan desil 2—warga paling tidak mampu.

Ini adalah bentuk kepedulian nyata agar setiap muslim, dari kalangan mana pun, mendapat hak yang sama dalam perjalanan akhirnya.

“Bagi saya, peran bilal mayit sangat berarti,” pungkas Rico Waas. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota, Wali Kota Medan mengingatkan bahwa kemuliaan sebuah kota juga diukur dari bagaimana ia menghormati warganya yang telah tiada. (Rel)