Dari Mesin Ketik ke AI: Kisah Sekretaris Kominfo Medan yang Bikin Mahasiswa Melek Teknologi
MEDAN – Pernahkah Anda membayangkan menulis skripsi dengan mesin ketik manual, atau mengoperasikan komputer dengan layar hitam penuh kode perintah C:/>?
Bagi mahasiswa era 90-an, itu bukanlah cerita kuno, melainkan kenyataan pahit yang harus mereka lewati.
Namun, dalam lompatan yang hanya butuh satu generasi, kita kini telah berada di puncak era Artificial Intelligence (AI), di mana sebuah pidato 3 halaman bisa lahir hanya dalam hitungan detik.
“Dulu waktu saya kuliah tahun ’95 atau ’96, kami belajar mengetik sepuluh jari menggunakan mesin tik,” kenang Budi Hariono, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Medan.
Bercerita di hadapan kader Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Medan, Budi menggambarkan bagaimana ia menyaksikan sendiri evolusi teknologi dari era mesin tik, transisi ke sistem operasi DOS yang rumit, hingga kini AI yang serba otomatis.
Namun di balik gemerlap kemudahan, Budi menyampaikan peringatan keras yang membuat ruang Aula Kantor Kominfo di Jalan Sidorukun itu terdiam. Di usianya yang kini matang, ia dengan rendah hati mengaku sebagai pengguna aktif AI untuk pekerjaan kantor.
“Saya jujur, sekarang kalau mau buat pidato tinggal klik sekali pakai AI langsung jadi” , ujarnya blak-blakan.
Baginya, inilah double-edged sword (pisau bermata dua) yang harus diwaspadai. Kemudahan instan ini berpotensi menciptakan generasi penerus bangsa yang malas berpikir dan kehilangan daya nalar kritis.
“Jangan sampai kemajuan ini membuat kita malas dan berhenti berkembang. Justru harus kita manfaatkan sebagai batu loncatan untuk melangkah lebih jauh,” tegas Budi.
Pesan ini senada dengan peringatan Achmad Navish Isnaini, Sekretaris PC IMM Kota Medan. Ia menekankan bahwa di era disrupsi ini, AI bukanlah tabu, melainkan bagian tak terpisahkan dari ekosistem akademik.
“Sejatinya kecerdasan yang dibuat itu bukan semata-mata untuk memenuhi syarat atau kapasitas diri secara instan,” ujar Navish didampingi Ketua Panitia, Sutan Raja Hendi Firmansyah.
Mahasiswa diajak untuk bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi menjadi pengguna kritis yang mampu memosisikan AI sebagai alat bantu produktivitas, bukan pengganti kecerdasan manusia.
Seminar yang menghadirkan narasumber Kaprodi Sistem Informasi Fikti UMSU, Mahardika Abdi Prawira Tanjung, dan Muhammad Fattah dari Dinas Kominfo ini menjadi pengingat bahwa di tengah deru mesin AI, manusia tetaplah aktor utama.
Kecerdasan buatan hanyalah cermin; jika kita malas, ia akan menularkan kemalasan. Namun jika kita kritis, ia akan menjadi loncatan menuju generasi emas yang lebih cerdas. (Rel)