Tak Semua Bisa Jadi Wisata! Bobby Nasution Bagi Nias Jadi 3 Zona, Ini Tugas Masing-masing
NIAS BARAT — Di balik deburan ombak Pantai RPJ, Sirombu, Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution justru melontarkan gebrakan yang kontra-intuitif.
Di hadapan masyarakat Nias Barat, Sabtu (18/7/2026), ia menegaskan tidak semua daerah di Kepulauan Nias bisa menjadi tujuan wisata.
Kepulauan Nias selama ini dikenal dengan ombak dunia yang memikat peselancar mancanegara serta situs megalitik yang menyimpan peradaban leluhur.
Namun, Bobby justru memilih jalan berbeda. “Kami akan membagi kepulauan Nias ini menjadi tiga bagian, bukan tiga wilayah pembangunan,” tegasnya didampingi Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu.
Lantas, apa maksudnya? Ini dia tiga zona strategis yang disepakati bersama bupati dan wali kota se-Kepulauan Nias:
1. Zona Produksi — daerah penghasil komoditas unggulan. Nias Barat resmi masuk kategori ini.
2. Zona Ekonomi dan Akses — pusat logistik dan distribusi.
3. Zona Pariwisata — destinasi wisata dan budaya.
Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan matang. Bobby menyadari potensi wisata Nias Barat melimpah, namun ia mengajak masyarakat belajar dari pengalaman pembangunan pariwisata di dalam negeri.
“Kala boleh kita sama-sama berkaca, Pulau Bali dulu hanya pantai Kuta yang berkembang, baru kemudian Nusa Dua, sekarang gunungnya pun dijual sebagai tempat wisata. Pembangunan pariwisata tidak langsung semuanya, harus step by step,” paparnya.
Filosofi ini diperkuat dengan logika anggaran yang realistis. “Bapak bupati Nias Barat punya anggaran terbatas, Nias Selatan juga demikian, kami di provinsi punya uang terbatas dan pusat punya anggaran terbatas,” ungkap Bobby.
Jika semua daerah memaksakan diri jadi destinasi wisata secara bersamaan, dampaknya justru tidak akan dirasakan masyarakat.
Maka, strategi yang dipilih adalah bertahap dan terukur. Nias Selatan yang sudah lebih dulu sukses mengangkat destinasi wisatanya hingga mendunia akan menjadi “lokomotif”.
Setelah Nias Selatan mapan, giliran Nias Barat yang akan dikembangkan secara perlahan. “Bukan kebijakan yang seolah-olah bijak biar merata, tapi dampaknya tidak ada kepada masyarakat,” tegas Bobby.
Kebijakan ini merupakan bagian dari visi besar “Nias Maju 2029” yang digagas Pemprov Sumut. Sebanyak Rp305 miliar telah disiapkan untuk mendukung layanan kesehatan, pendidikan, konektivitas, serta ketahanan lokal dan keunggulan global.
Yang menarik, di tengah diskusi serius itu, Bobby juga merespons langsung aspirasi warga. Ia berjanji menambah bantuan kapal nelayan dari uang pribadi serta mendorong pembangunan pemecah ombak dan perbaikan jalan provinsi.
Seorang warga, Ahmad Rafi Zebua, mengaku baru kali ini bisa berdiskusi langsung dengan gubernur dan mendapat solusi nyata.
Nias tidak sedang bermimpi menjadi Bali dalam semalam. Nias sedang membangun fondasi agar kelak berdiri di atas kaki sendiri sebagai pulau produksi, logistik, dan pariwisata yang saling menguatkan. (Rel)