NIAS UTARA – Di balik rimbunnya perbukitan Nias Utara, ada cerita perjuangan yang kini mulai bersinar. SMP Negeri 4 Sitolu Ori, yang selama dua tahun terpaksa belajar di bangunan papan bocor dan lantai semen becek, akhirnya menyaksikan perubahan nyata.
Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, langsung turun ke Desa Tetehosi Maziaya, Kamis (6/8/2026), untuk meninjau pembangunan gedung permanen senilai Rp1,5 miliar lebih dari Bantuan Keuangan Provinsi (BKP).
Awalnya, sekolah ini hanya punya 7 siswa dan tak memiliki ruang kelas – mereka belajar di gereja. Berkat gotong royong masyarakat dan CSR, terciptalah tiga ruang dari kayu, namun kenyamanan masih jauh dari harapan. Saat hujan, lantai becek, nyamuk mengganggu, dan siswa harus berjalan kaki 2–5 kilometer dari rumah. Kini, jumlah siswa melonjak menjadi 45 orang, dibimbing 22 guru (ASN, PPPK, dan non-ASN).
Salah satu siswa kelas IX, Electra Stefani Harefa, mengaku belum pernah merasakan bangunan permanen.
“Saat hujan, belajar terganggu karena becek dan nyamuk,” katanya.
Namun, kedatangan Bobby membawa angin segar. Ia menyapa langsung setiap ruang kelas dan mendengar kebutuhan guru: laboratorium, perpustakaan, akses internet, serta jalan yang layak.
“Anak-anak berangkat pukul 06.00 pagi,” ujar Kepala Sekolah Teti Gea.
Proyek ini mencakup tiga ruang kelas lengkap perabot, ruang kepala sekolah, guru, TU, tamu, serta toilet laki-laki, perempuan, dan difabel.
Baca Juga : Gubsu Bobby Bawa DPRD ke Nias: Kolaborasi Eksekutif-Legislatif Pecahkan Rekor 78 Tahun
Bobby tak hanya membangun fisik, tetapi juga menegaskan komitmennya untuk pemerataan pendidikan di daerah terpencil.
“Ini bukan sekadar gedung, tapi harapan baru bagi anak-anak Nias,” ujarnya.
Masyarakat pun bersyukur. Electra berpesan, “Terima kasih Bapak Gubernur, semoga sehat dan bijaksana memimpin Sumut.”
Langkah ini menjadi bukti bahwa perhatian pemerintah mampu mengubah nasib pendidikan di pelosok. Semoga pembangunan akses jalan dan fasilitas pendukung segera menyusul, agar tidak ada lagi anak yang harus menempuh kilometer demi ilmu. (Rel)