Darurat Narkoba di Kalangan Remaja! Polrestabes Medan Grebek Jaringan XTC, Pemasok Masih Buron
MEDAN – Kabar mengejutkan datang dari Satuan Reserse Narkoba (Satres Narkoba) Polrestabes Medan.
Sepasang remaja yang masih belia, kompak menjalankan bisnis haram narkoba jenis pil ekstasi atau XTC, berhasil diringkus dalam operasi senyap yang digelar Rabu (19/8/2026) malam di wilayah Medan Denai dan Medan Tembung.
Keduanya adalah AZ (21) dan NF (19), warga Jalan Jermal, Kecamatan Medan Denai. Meski tergolong muda, mereka sudah menjalankan peredaran gelap ini selama satu bulan terakhir.
Dari tangan mereka, polisi mengamankan 5 butir pil ekstasi dengan rincian mengejutkan 3 butir berwarna biru dengan logo Transformer dan 2 butir berwarna oranye bermerek Redbull.
Kronologi pengungkapan bermula dari penangkapan AZ di Jalan Tuamang, Kecamatan Medan Tembung. Pengembangan lebih lanjut mengarah pada NF yang ternyata berperan sebagai pemasok bagi AZ. Wanita 19 tahun itu dibekuk di Jalan Panglima Denai, tepat di depan sebuah restoran siap saji.
Yang memprihatinkan, AZ membeli satu butir ekstasi dari NF seharga Rp 180.000, lalu menjualnya kembali dengan harga Rp 220.000 per butir.
Artinya, dalam satu kali transaksi, mereka meraup untung Rp 40.000 per butir—keuntungan instan yang menggoda, tapi berisiko menghancurkan masa depan.
Fakta mencengangkan lainnya: pemasok utama NF kini masih buron dan identitasnya sudah diketahui polisi.
Kasat Reserse Narkoba Polrestabes Medan, AKBP Rafli Yusuf Nugraha menegaskan, pihaknya memastikan l pemasoknya akan dikejar dan ringkus. Tidak akan ada tempat bagi pelaku narkoba di Kota Medan.
Apa yang membuat kasus ini berbeda? Di tengah gencarnya sosialisasi bahaya narkoba, masih ada remaja yang nekat menjadi pengedar.
Fenomena ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi alarm bahaya bagi orang tua dan masyarakat Medan. Ekstasi dengan varian Transformer dan Redbull menyasar anak muda, dikemas dengan logo menarik yang justru mematikan.
Dampak lebih luas: Satu butir ekstasi bisa merusak generasi, mencuri masa depan, dan menggerogoti kesehatan mental. Polrestabes Medan berkomitmen memberantas peredaran gelap ini, namun tanpa peran serta masyarakat dan keluarga, perang melawan narkoba akan terus berjalan di tempat.
Ini bukan sekadar berita kriminal. Ini adalah cermin: apakah lingkungan kita aman? Apakah anak-anak kita terhindar dari ancaman ini?
Pantau terus perkembangan kasus ini hanya di sini beda, mendalam, dan lebih dari sekadar laporan polisi.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pemberantasan narkoba adalah tanggung jawab kita bersama. Jika Anda mengetahui peredaran narkoba di lingkungan Anda, segera laporkan ke pihak berwajib. (FD)