Jeritan Bayi 11 Bulan di Nias yang Terabaikan & Langkah Revolusioner Bobby”
GUNUNGSITOLI – Ada yang salah dalam narasi layanan kesehatan di negeri ini. Bayi mungil bernama Brilly Prathiwi Gulo, baru 11 bulan, terbaring lemah di RSUD Thomsen, Gunungsitoli.
Hasil lab mengerikan: suspek leukemia. Biaya berobatnya gratis—BPJS PBI Kelas III menanggung semuanya. Lantas, apa masalahnya?
Putri petani dari Balodano, Nias Barat, itu harus dirujuk ke Medan. Tapi bagaimana keluarganya membayar transportasi?
Di sinilah ironi pahit sistem JKN BPJS Kesehatan berkali-kali menegaskan tidak pernah menanggung biaya transportasi bensin, tol, atau tiket kapal. Negara menanggung sakitnya, tapi mengabaikan jalan menuju kesembuhan.
Namun Rabu (5/8/2026), seorang pemimpin membuktikan bahwa birokrasi bisa bergerak melampaui aturan kaku. Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution, yang sedang berkantor di Nias (5-9/8/2026), mendengar keluhan keluarga Brilly.
Tanpa ragu, ia memerintahkan Dinas Kesehatan mengambil alih seluruh biaya perjalanan.
“BPJS-nya aktif, rumah sakitnya gratis. Cuma masalah transportasi. Kali ini kami tanggung semua,” tegas Bobby.
Lebih dari sekadar bantuan insidental, Bobby meluncurkan terobosan visioner: rumah singgah khusus pasien rujukan dari Kepulauan Nias di Medan. Ini bukan sekadar bangunan; ini adalah jembatan peradaban.
Selama ini, pasien Nias yang dirujuk ke Medan harus memutar otak mencari tempat tinggal murah. Rumah singgah ini akan menjadi benteng terakhir bagi mereka yang tercekik biaya logistik.
Bahkan sebelum Brilly, kiprah Bobby di Nias sudah nyata. Juli lalu, ia menjadi gubernur pertama dalam 78 tahun yang berkantor di Kepulauan Nias, memastikan proyek strategis di sektor pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan tidak berhenti di atas kertas.
Kini, saat menemukan Fatiadi Zebua (65 tahun) penderita kanker tiroid yang juga terkendala biaya rujukan, Bobby kembali memastikan bantuan mengalir.
Aksi cepat ini menjadi bukti bahwa pemimpin hadir bukan untuk didengar, tapi untuk bergerak. Di tengah hiruk-pikuk kebijakan nasional, langkah Bobby mengingatkan kita: akses kesehatan bukan hanya tentang ruang perawatan mewah, tapi tentang bagaimana rakyat di pelosok bisa sampai ke ruang itu.
Salam untuk Brilly. Semoga lekas sembuh. Dan untuk Bobby, teruslah menjadi cahaya di ujung lorong. (Rel)