Jeritan Warga Karang Berombak: Trauma Banjir, LPJU Mati, dan Longsor, Rico Waas Turun Tangan Beri Solusi Instan

183

MEDAN – Suasana hangat namun sarat dengan jutaan harapan mewarnai kegiatan Sapa Warga yang digelar Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, di Jalan Karya II, Kelurahan Karang Berombak, Kecamatan Medan Barat, Sabtu (20/6/2026).

Di hadapan ratusan pasang mata yang tampak penuh penantian, ruang dialog yang semula riuh itu mendadak hening bagai ditelan sunyi. Seorang warga bernama Arifin dari Lingkungan 17 Karang Berombak berdiri dengan suara bergetar, melontarkan pertanyaan yang menusuk kalbu.

“Seumur hidup saya, baru kali itu merasakan banjir sampai sedada orang dewasa. Ada rasa trauma, Pak. Apa solusi konkret dari Bapak sebagai Wali Kota agar penderitaan ini tidak terulang lagi?”

Jeritan Arifin bukan isapan jempol belaka. Banjir besar yang melumpuhkan Kota Medan pada 27 November 2025 lalu masih membekas kuat di ingatan warga.

Bencana itu melanda 19 dari 21 kecamatan di Kota Medan dan tercatat sebagai banjir terbesar yang pernah dialami sepanjang hidup banyak warga.

Data Pemko Medan mencatat 242 Kepala Keluarga mengalami kerusakan rumah, dengan rincian 99 unit rusak ringan, 67 unit rusak sedang, dan 76 unit rusak berat. 20 orang bahkan kehilangan nyawa dalam peristiwa tragis tersebut.

Mendengar keluhan itu, Rico Waas tampak menyimak dengan saksama. Wali kota yang akrab disapa Rico itu tidak menampik bahwa cuaca ekstrem pada akhir tahun lalu menjadi pemicu utama.

Namun, ia menegaskan bahwa akar masalah sebenarnya jauh lebih kompleks, yakni alih fungsi lahan serta kondisi tiga sungai besar Sungai Deli, Belawan, dan Percut yang sudah sangat lama tidak dinormalisasi.

Baca Juga : Rico Waas Turun Langsung Atasi Banjir Medan Selayang, Drainase Tersumbat Jadi Biang Kerok

Menurut hasil diskusi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), banjir tersebut masuk kategori siklus 25 tahunan. Namun, dengan perubahan iklim yang kian sulit diprediksi, potensi bencana serupa bisa datang lebih cepat.

“Meski pengelolaan sungai berada di bawah wewenang BWS Sumatera II (Kementerian PUPR), saya tegaskan bahwa Pemko Medan tidak akan tinggal diam. Kami akan terus mendesak dan bersinergi dengan pemerintah pusat demi menuntaskan normalisasi sungai,” tegas Rico Waas di hadapan warga.

Sembari mengupayakan dorongan ke pemerintah pusat, Pemko Medan fokus mengoptimalkan kewenangan daerah melalui perbaikan drainase kota dan pembangunan kolam retensi dengan dukungan World Bank.

Namun, Rico menyoroti kendala tak kasat mata di lapangan mulai dari struktur crossing drainase di bawah jalan raya yang pecah, hingga perilaku buruk warga yang membuang sampah sembarangan.

Fakta mengejutkan terungkap: petugas Dinas SDABMBK kerap menemukan benda-benda tak lazim di dalam saluran air, mulai dari tumpukan sampah plastik setinggi dada, ban bekas, bantal, guling, kasur, hingga kulkas dan sofa utuh yang sengaja dibuang oleh oknum warga.

“Saya mengimbau masyarakat untuk berkolaborasi dan menjaga kebersihan lingkungan secara rutin agar pembangunan infrastruktur yang dikerjakan Pemko tidak sia-sia,” himbau Rico didampingi jajaran pimpinan perangkat daerah.

Aksi tanggap cepat Rico Waas kembali terlihat saat Ebet, warga Lingkungan 8 Silalas, mengeluhkan 7 lampu penerangan jalan umum (LPJU) yang mati karena kabel putus akibat hujan.

Keluhan yang sudah bolak-balik dilaporkan namun tak kunjung terealisasi itu langsung mendapat respons instan.

Tanpa menunda waktu, Rico memberi instruksi tegas untuk Dinas Perhubungan, hari ini juga langsung turun ke lokasi. Beresi semua LPJU yang mati dan perbaiki kabel-kabel yang putus. Jangan ditunda lagi!

Instruksi itu disambut tepuk tangan riuh dari warga yang selama ini merasa aspirasinya terabaikan.

Keluhan juga datang dari Kolonel Purnawirawan Hermansyah, yang rumahnya yang berbatasan langsung dengan sungai kini terancam ambrol akibat erosi air.

Selain ancaman longsor, ia mengeluhkan jalanan berlubang dan bahaya kabel listrik menjuntai rendah di sekitar lapangan olahraga.

“Kalau tersentuh orang, bisa langsung meninggal, Pak. Ini sangat berbahaya,” tutur Hermansyah dengan nada cemas.

Merasa ada ancaman keselamatan yang serius, Rico Waas langsung menginstruksikan Dinas SDABMBK untuk segera turun ke lapangan.

“Lokasi itu memang butuh perbaikan segera karena bisa ambrol kapan saja,” pungkasnya.

Melalui program Sapa Warga, Rico Waas membuktikan bahwa memimpin Medan bukan sekadar duduk di balik meja, melainkan hadir langsung menjemput bola mendengarkan trauma warga, merespons keluhan dengan cepat, dan menghadirkan solusi nyata tanpa sekat birokrasi.

Program yang dianggap paling efektif menampung aspirasi langsung ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintahan yang responsif dan pro-rakyat.

Sebelum Sapa Warga, Rico Waas juga meninjau kegiatan gotong royong massal yang dilakukan jajaran Kecamatan Medan Barat, memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun kota yang lebih tangguh menghadapi bencana. (Rel)