Rico Waas: Ulama adalah Kompas Moral, Bukan Alat Kepentingan Sesaat

97

MEDAN – Di tengah hiruk-pikuk politik dan birokrasi yang kerap menjebak pemimpin dalam pusaran kepentingan sesaat, Wali Kota Medan Rico Waas menyampaikan pesan yang menggugah.

Menjamu makan siang tim Haflah Khas Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota, Selasa (16/6/2026), ia menegaskan bahwa ulama bukanlah objek yang boleh diperlakukan sebagai alat kepentingan pragmatis.

“Ulama jangan kita jadikan sebuah objek tertentu, digunakan hanya pada saat-saat tertentu, misalnya terpojok pada satu hal, hanya diharapkan karena butuh saran pada satu waktu tertentu,” tegas Rico Waas dengan nada penuh penekanan.

Pernyataan ini lahir dari kesadaran mendalam bahwa seorang pemimpin—baik wali kota, kepala dinas, maupun pejabat eselon lainnya—hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan khilaf. Di sinilah ulama hadir sebagai kompas moral.

“Pimpinan ini bisa lurus kalau misalnya didampingi oleh ulama. Manusia bisa jatuh kapan saja, kita bisa salah kapan saja, khilaf kapan saja,” ujarnya.

Jamuan hangat itu bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, menjadikannya momen refleksi yang sempurna. Rico Waas mengajak seluruh jajaran pemerintah untuk merenungkan esensi kepemimpinan.

Baca Juga : Rico Waas di Milad ke-84 Syekh Ali Akbar Marbun: Ulama Teduh yang Jadi Perekat Persatuan Sumut

“Menjadi pimpinan ini apa sih sebenarnya? Bos kah? Orang yang menyuruh-nyuruh kah? Di tahun baru ini coba kita refleksikan diri. Pimpinan itu menurut saya adalah pelayan masyarakat. Bukan untuk dieluh-eluhkan,” tegasnya.

Lebih dari sekadar retorika, Wali Kota Medan menyerukan transformasi budaya birokrasi meruntuhkan dinding eksklusivitas dan membangun inklusivitas agar pemerintah semakin dekat dan terbuka dengan seluruh lapisan masyarakat Kota Medan.

Di sisi lain, Ketua MUI Kota Medan, Dr. H. Hasan Matsum, M.Ag, menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian luar biasa yang diberikan Pemko Medan selama ini. Menurutnya, kebersamaan yang terjalin antara pemerintah dan ulama saat ini terasa sangat spesial—bahkan belum pernah dirasakan sebelumnya.

“Ini bukan perasaan saya sendiri, Pak Wali. Oleh karena itu, sekali lagi terima kasih Pak Wali. Takzim kami kepada Pak Wali. Apalagi hari ini, setelah doa bersama, kami juga diajak makan bersama. Alhamdulillah,” ujar Hasan Matsum penuh haru.

Hasan Matsum juga menegaskan tiga peran utama MUI Khidmatul Ummah (melayani umat), Himayatul Ummah (melindungi umat), dan Shodiqul Hukumah (menjadi mitra pemerintah).

“MUI tidak akan pernah berseberangan dengan pemerintah. Peran kami adalah memberikan masukan, tausiah, bimbingan, dan arahan agar kehidupan keberagamaan, sosial, dan pemerintahan dapat berjalan bersama dengan umat. Dalam hal ini, MUI hadir sebagai mediator,” pungkasnya.

Pertemuan ini bukan sekadar seremonial belaka. Ia menegaskan bahwa sinergi antara ulama dan pemerintah adalah fondasi kokoh bagi pembangunan kota yang berkeadilan dan bermoral.

Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, pesan Wali Kota Medan ini menjadi pengingat penting: ulama adalah mitra sejati, bukan alat sesaat. (Rel)