Bobby Cetak Sejarah: Gubernur Pertama yang Berkantor di Nias, Gebrakan Nyata Akhiri Keterisolasian 78 Tahun!

177

MEDAN – Sebuah babak baru dalam sejarah pemerintahan Sumatera Utara (Sumut) terukir pada Juli 2026. Muhammad Bobby Afif Nasution, Gubernur Sumut, mencatatkan diri sebagai gubernur pertama yang secara resmi berkantor di Kepulauan Nias sejak provinsi ini berdiri 78 tahun lalu.

Langkah ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan wujud nyata kehadiran pemerintah untuk memutus rantai ketertinggalan di wilayah kepulauan yang selama ini terisolasi.

“Gubernur-gubernur sebelumnya mungkin sering berkunjung ke Nias, tapi kalau istilah berkantor di Nias memang baru ada di masa Gubernur Bobby Nasution,” ujar Kepala Dinas Kominfo Sumut, Erwin Hotmansah Harahap.

Komitmen ini bahkan dijalankan dengan sistem rotasi tiga bulan bersama Wakil Gubernur Surya, memastikan Nias tidak pernah ditinggalkan.

Data menunjukkan empat kabupaten di Kepulauan Nias, Nias Utara, Nias Selatan, dan Nias Barat masih berstatus daerah tertinggal. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Nias misalnya hanya 66,79 pada 2025, jauh di bawah rata-rata provinsi yang mencapai 76,47.

Akses infrastruktur yang buruk dan keterbatasan layanan dasar menjadi tantangan utama yang selama puluhan tahun tak terselesaikan.

Di sinilah Bobby Nasution mengambil pendekatan berbeda bukan menunggu laporan, melainkan hadir langsung di tengah masyarakat.

Baca Juga : Komitmen Nyata Pemprov Sumut Wujudkan Pendidikan Berkualitas di Kepulauan Terpencil

Selama 15–20 Juli 2026, Bobby langsung tancap gas. Di sektor pendidikan, ia memastikan pembangunan SMKN 1 Gido yang direlokasi karena lokasi lama rawan banjir dan bahkan dilaporkan pernah ada buaya.

Lokasi baru seluas 2 hektar merupakan hibah dari warga bernama Faonasekhi Lawolo. Bobby juga meninjau pembangunan SMA Unggulan Sukma serta menggratiskan biaya pendidikan SMA/SMK di Nias.

Di infrastruktur, perbaikan jalan Nias Barat – Nias Selatan, pembangunan Jembatan Mo’awo, dan pelabuhan Ro-Ro menjadi fokus utama.

Bobby bahkan mengajak warga mengawal proyek jembatan yang selama ini menjadi penghubung vital antara Gunungsitoli dan Nias Utara. “Saya tahu ini kondisinya sudah memprihatinkan, makanya tahun ini segera kita kerjakan,” tegasnya.

Tak ketinggalan, revitalisasi situs megalitik Tetegewo dan rumah adat Bawomataluo direncanakan tahun depan. Langkah ini sekaligus membuka peluang pariwisata budaya Nias ke kancah internasional, terbukti dengan kunjungan Duta Besar Prancis Fabien Penone ke kedua situs tersebut.

Dalam satu pekan saja, dampak kehadiran gubernur sudah terasa luar biasa. Bantuan untuk nelayan dan masyarakat Nias Barat pun segera digulirkan.

Memasuki pekan kedua, giliran Wagub Surya yang melanjutkan agenda, memastikan estafet pembangunan tak pernah terputus.

Bobby Nasution telah membuktikan bahwa kepemimpinan bukan tentang jarak, melainkan kehadiran dan tind nyata.

Dengan langkah bersejarah ini, Nias kini punya harapan baru untuk bangkit dari keterisolasian dan mengejar ketertinggalan bersama Sumatera Utara yang lebih maju. Nias bangkit, Sumut maju! (Rel)