Momen Bapenda Medan Bertransformasi, dari Birokrasi Kaku Menjadi Pelayan Publik yang BerAKHLAK

359

MEDAN — Di tengah hiruk-pikuk target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang mencapai Rp3,8 triliun pada 2026, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Medan menggelar apel gabungan yang bukan sekadar rutinitas seragam dan barisan.

Ketika menggelar apel di halaman depan Kantor Bapenda Kota Medan menjadi panggung deklarasi transformasi besar-besaran.

Dipimpin langsung oleh Kepala Bapenda Kota Medan, M. Agha Novrian, apel yang diikuti Sekretaris Badan, para Kepala Bidang, hingga seluruh jajaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) se-Kota Medan ini menjadi momen penegasan: birokrasi perpajakan Medan sedang berubah.

Dari “Pengumpul Pajak” Menjadi “Pelayan Masyarakat”

Di atas podium, Agha Novrian tidak sekadar memberi arahan. Ia menanamkan filosofi baru. Penekanan utamanya bukan pada angka, melainkan pada manusia.

“Jika dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada masyarakat terdapat hal yang tidak bisa diselesaikan, silakan berkoordinasi dengan rekan yang menguasai atau langsung dengan pimpinan,” tegasnya.

Baca Juga : Tim Pajak Medan Turun ke Jalan, Data Kendaraan Mati Pajak Diburu Door-to-Door demi Cuan Rp784 M

Pesan ini bukan basa-basi—itu adalah solusi taktis yang memotong birokrasi berbelit, menggantikan stigma “tidak tahu” dengan “saya bantu carikan yang tahu.”

Lebih dari itu, ia mengingatkan seluruh pegawai untuk menghindari segala tindakan yang mencoreng citra instansi dan mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP).

Di era di mana kepercayaan publik adalah mata uang paling berharga, pesan ini menjadi benteng pertahanan institusi.

QRESTO dan Revolusi Digital: Bukan Sekadar Wacana

Transformasi yang digaungkan Agha Novrian bukan omong kosong. Di balik layar, Bapenda Medan sedang menggulirkan inovasi digital yang menggebrak.

Salah satunya adalah QRESTO (Quick Response Electronic Splitting System for Tax Optimization), sistem pembayaran pajak berbasis split payment yang mengintegrasikan transaksi QRIS dengan penyetoran pajak secara otomatis. Inovasi ini bahkan telah menjadi best practice di forum capacity building regional.

“Kita harus terus membangun kepercayaan masyarakat melalui kinerja yang bersih dan akuntabel,” tegas Agha—sebuah pernyataan yang selaras dengan upaya digitalisasi untuk menciptakan transparansi.

Puncak apel adalah penyerahan penghargaan ASN BerAKHLAK untuk Triwulan II. Penghargaan ini bukan sekadar seremonial ini adalah pengakuan atas implementasi nilai-nilai dasar ASN yang dicanangkan pemerintah pusat Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.

Para penerima penghargaan adalah bukti bahwa birokrasi yang humanis dan profesional adalah kunci:

Kategori Bidang & Sekretariat:

· Terbaik I: Median Ramadin, S.H. (Bidang 2)
· Terbaik II: Alvant Syafri (Bidang 1)
· Terbaik III: Lily Trisna (Sekretariat)

Kategori UPT Bapenda:

· Terbaik I: Ratna Sari Dewi (UPT 4)
· Terbaik II: Ida Berliana Br Ginting (UPT 3)
· Terbaik III: Hastika Rahayu (UPT 6)

Penghargaan ini menjadi pecut semangat bagi seluruh pegawai untuk terus memberikan kontribusi terbaik, mengingat target PAD Medan 2026 yang sangat ambisius.

Dengan target PAD 2026 yang membubung dan tekanan untuk berinovasi, Bapenda Medan menunjukkan bahwa mereka siap. Apel gabungan ini adalah pengingat bahwa di balik setiap rupiah pajak yang masuk, ada manusia-manusia yang berkomitmen melayani.

Transformasi bukan hanya tentang sistem, tetapi tentang budaya. Dan budaya itulah yang sedang dibangun, satu apel, satu penghargaan, satu pelayanan publik pada satu waktu. (Rel)