Rico Waas Mobilisasi 21 Kecamatan, Nenek 76 Tahun Ini Malah Minta “Gulung Habis” Narkoba
MEDAN – Bulan Agustus selalu menjadi momentum sakral bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun, perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun 2026 terasa berbeda di Kota Medan.
Di tengah gegap gempita menyambut 17 Agustus, Penjabat Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, mengambil langkah monumental yang jarang dilakukan pemimpin daerah lain: turun langsung memimpin gotong royong massal serentak di 21 kecamatan pada Sabtu (15/8/2026).
Aksi yang merupakan bagian dari Gerakan Indonesia Asri ini bukan sekadar ritual tahunan membersihkan selokan atau mengecat tugu. Rico Waas mengubah momen kebersamaan menjadi laboratorium kebijakan publik real-time.
Bayangkan, dalam satu hari yang sama, seluruh jajaran Pemerintah Kota (Pemko) Medan bergerak dari ujung ke ujung kota, mulai dari membersihkan lingkungan, menanam pohon, hingga yang paling krusial: mendengarkan langsung detak jantung permasalahan warganya.
Aksi Nyata di Tengah Kota: Dari Alat Berat Hingga “Sapa Warga”
Lokasi utama yang menjadi sorotan adalah Jalan Keramat Indah, Kelurahan Medan Tenggara, Kecamatan Medan Denai.
Di sinilah Rico Waas, didampingi Anggota DPRD Medan Afif Abdillah serta jajaran pimpinan perangkat daerah, memantau langsung deru alat berat yang dikerahkan untuk membenahi infrastruktur.
Tidak hanya di Medan Denai, melalui layar monitor canggih, ia secara bersamaan mengawasi jalannya aksi gotong royong di 20 kecamatan lainnya.
“Ini dilakukan dalam rangka menyambut 17 Agustus sekaligus menggerakkan masyarakat untuk membersihkan lingkungannya masing-masing. Bedanya, hari ini serentak di 21 kecamatan yang dipimpin para camat,” tegas Rico Waas.
Namun, yang membedakan kegiatan ini dengan aksi serupa di daerah lain adalah adanya program “Sapa Warga”. Rico Waas membawa serta 15 Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menampung aspirasi secara langsung.
Mulai dari persoalan klasik seperti banjir dan drainase, sampah permukiman, lampu penerangan jalan umum (LPJU), hingga ketersediaan air bersih semua dicatat dan direspons cepat.
Jeritan Nenek Megawati: Musuh Bersama Bernama Narkoba
Di tengah hiruk-pikuk suara warga yang menyampaikan keluhan, satu suara lirih namun menggema menggugah perhatian publik. Megawati Harahap (76), seorang pensiunan Dinas Kesehatan Kota Medan yang tinggal di Jermal 12, dengan berani tampil ke depan.
Dengan suara bergetar namun penuh tekad, nenek 76 tahun ini meminta Wali Kota untuk bertindak tegas. “Mohon sama Bapak Wali Kota, ini (narkoba di Jermal 15 Ujung) untuk segera dibersihkan! Kami ibu-ibu di sini sangat-sangat mengharapkan. Anak-anak kami takut kena narkoba, kami sering kehilangan anak, rupanya sudah di sana,” ujar Megawati.
Pernyataan ibu sepuh itu sontak disambut teriakan setuju dan tepuk tangan riuh dari ratusan emak-emak yang hadir.
Megawati membeberkan fakta mencengangkan bahwa peredaran gelap narkoba di Jermal 15 Ujung tidak hanya merusak mental generasi muda, tetapi juga menjadi pemicu utama tingginya angka kriminalitas, mulai dari pencurian hingga kekhawatiran terhadap keselamatan anak gadis mereka.
Menanggapi hal ini, Rico Waas tak tinggal diam. Ia dengan tegas menyebut narkoba sebagai “musuh bersama” yang mengancam pilar-pilar keluarga.
“Dari keluarga, kita wajib melarang dan mengawasi anak-anak kita. Pemko Medan bersama aparat kepolisian dan TNI tidak akan tinggal diam dan terus mendorong agar pembongkaran serta penindakan narkoba, seperti di kawasan Jermal 15, dilakukan secara terus-menerus,” janjinya.
Gebrakan Kebijakan: Tidak Ada Pembatasan Adminduk
Tak hanya soal keamanan, Rico Waas juga menyoroti kebijakan internal yang selama ini menjadi keluhan warga. Ia meminta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) untuk mengevaluasi kinerja petugas di kecamatan yang kerap membatasi pelayanan.
“Kalau sudah masuk antrean ini harus dilayani. Tolong Pak Kadis, bereskan permasalahannya. Jangan membatasi-batasi dan jangan membuat aturan sendiri,” tegasnya.
Ia memastikan seluruh layanan administrasi kependudukan (Adminduk) seperti KTP dan KK diberikan secara gratis tanpa pembatasan, dan pelayanan telah dikembalikan ke tingkat kecamatan untuk menghindari penumpukan.
525 Pohon dan Target 61.170 Penghijauan
Di sisi lain, aksi gotong royong ini juga diisi dengan kegiatan penanaman pohon serentak. Setidaknya 525 pohon ditanam pada hari itu di seluruh kecamatan. Ini merupakan langkah awal menuju target besar penanaman 61.170 pohon sebagai komitmen Pemko Medan dalam program penghijauan kota dan kompensasi dampak pembangunan proyek strategis seperti BRT.
Mengakhiri rangkaian kegiatan, Rico Waas mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyemarakkan HUT ke-81 RI dengan mengibarkan bendera Merah Putih.
“Mari kita tunjukkan rasa nasionalisme kita menyambut HUT ke-81 RI. Jadikan momentum ini untuk memperkuat persatuan dan menghidupkan kembali semangat gotong royong,” ajaknya.
Melalui gebrakan gotong royong massal yang dipadukan dengan real action kebijakan ini, Rico Waas tak hanya membersihkan kota secara fisik, tetapi juga membangun kembali kepercayaan publik bahwa suara rakyat adalah hukum tertinggi bagi pemimpinnya. (Rel)