TEHERAN – Gencatan senjata antara Israel dan Iran akhirnya berlaku pada Selasa (4:00 GMT), setelah 12 hari pertukaran serangan rudal dan drone yang menewaskan ratusan orang.
Kesepakatan ini ditengahi oleh AS, meski sempat goyah di jam-jam awal akibat pelanggaran dari kedua belah pihak.
Awal yang Bergejolak
Gencatan senjata tahap awal sempat dipertanyakan setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengancam melancarkan “serangan besar” ke Teheran, menuduh Iran melanggar kesepakatan lebih dulu.
Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu segera menghentikan eskalasi setelah permintaan langsung dari Presiden AS Donald Trump.
Sementara itu, Iran membantah pelanggaran dan justru menuding Israel yang menyerang Penjara Evin di Teheran, menewaskan sejumlah tahanan dan pengunjung. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim 14 rudal mereka ditembakkan sebagai balasan atas serangan Israel sebelumnya.
Korban Jiwa dan Dampak Konflik
– Di Iran, menurut laporan resmi Kementerian Kesehatan Iran, sebanyak 610 warga sipil tewas dan lebih dari 4.700 terluka sejak dimulainya konflik pada 13 Juni 2025. Korban tewas ini termasuk anak-anak, dokter, dan petugas penyelamat.
Beberapa sumber lain menyebut angka korban tewas di Iran berkisar antara 585 hingga 639 orang, mayoritas warga sipil56.
– Di Israel, data resmi menyebutkan sedikitnya 28 warga tewas akibat serangan rudal Iran selama 12 hari konflik, dengan total sekitar 1.347 orang terdampak luka-luka atau trauma3. Angka ini termasuk 13 warga Israel yang tewas sampai pertengahan Juni 202510.
Wilayah udara kedua negara serta Suriah, Qatar, dan Irak mulai dibuka kembali setelah sempat ditutup. Maskapai seperti Oman Air dan El Al Israel berangsur normalisasi operasi.
Pernyataan Politik: Kemenangan atau Gencatan Rapuh?
– Iran : Presiden Masoud Pezeshkian menyebut konflik ini sebagai “kemenangan total” namun menyatakan kesiapan berdiplomasi dengan AS.
– Israel : Netanyahu mengklaim “semua tujuan perang tercapai”, termasuk penghancuran fasilitas nuklir di Arak, Natanz, dan Isfahan.
– AS : Trump menyebut penghancuran situs nuklir Iran sebagai “kehormatan besar”, tetapi mengecam Israel karena melanggar gencatan senjata.
Respons Internasional
– China : Menteri Luar Negeri Wang Yi mendukung gencatan senjata “sejati”.
– NATO : Pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman menyerukan “waktu untuk diplomasi”.
– Houthi Yaman : Memuji perlawanan Iran dan menyasar negara Barat pendukung Israel.
Apa Selanjutnya?
Gencatan senjata ini masih rapuh. Iran bersikeras akan lanjutkan program nuklir, sementara Israel mengancam respons lebih keras jika provokasi terjadi. Dunia internasional memantau ketat, khawatir konflik akan kembali menyala. (Aljazeera)