MAKASSAR – Aksi unjuk rasa di Makassar berakhir dengan tragedi pilu yang merenggut empat nyawa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar memastikan korban jiwa terdiri dari tiga orang yang tewas dalam kebakaran gedung DPRD dan satu pengemudi ojek online (ojol) yang menjadi korban amuk massa.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, menegaskan bahwa kejadian pengeroyokan terhadap driver ojol ini terpisah dari insiden pembakaran, namun terjadi dalam rentetan peristiwa yang sama. Korban tewas dalam peristiwa pembakaran adalah staf dan pegawai DPRD yang terjebak di dalam gedung.
Korban Kebakaran Gedung DPRD: Terjebak dan Hangus
Kebakaran yang melanda Kantor DPRD Kota Makassar pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari menewaskan tiga orang yang tidak sempat menyelamatkan diri:
1. Syaiful (43): Kepala Seksi Kesra Kecamatan Ujung Tanah. Meninggal dunia di RS Grestelina.
2. Muhammad Akbar Basri (Abay): Fotografer Humas DPRD Kota Makassar.
3. Sarinawati: Staf DPRD Makassar. Jenazahnya ditemukan tim SAR di lantai 3 dalam kondisi hangus terbakar.
Diduga, Abay dan Sarinawati bersembunyi di sebuah ruangan untuk menghindari massa yang naik ke gedung dan mulai menjarah. Sayangnya, mereka justru terjebak saat api melalap gedung.
Korban Salah Sasaran: Driver Ojol Dikeroyok hingga Tewas
Korban keempat adalah Rusdamdiansyah (21), seorang pengemudi ojek online yang bukan bagian dari demo. Ia dikeroyok massa di Jalan Urip Sumoharjo, tepatnya di lorong 501 depan Kampus UMI, karena diduga mistaken identity (salah identitas) sebagai intelijen aparat.
“Bukan mahasiswa, tetapi masyarakat biasa,” tegas Fadli.
Setelah dikeroyok, Rusdamdiansyah dilarikan ke RSUP OJK Kemenkes RI di kawasan CPI. Namun, nyawanya tidak tertolong. Keluarga awalnya mengira ia mengalami kecelakaan sebelum mengetahui ia menjadi korban amuk massa.
Klarifikasi Korban Lainnya
Berita sebelumnya yang menyebutkan Budi Haryadi (30), anggota Satpol PP yang melompat dari gedung, telah meninggal adalah tidak benar. Korban saat ini masih menjalani perawatan medis intensif di Rumah Sakit Primaya dalam kondisi kritis.
Tragedi ini menyisakan duka mendalam dan menjadi catatan kelam tentang bagaimana aksi unjuk rasa dapat berubah menjadi kerusuhan yang merenggut nyawa orang-orang tidak bersalah. (Ant)