JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran semakin memanas. Di tengah eskalasi militer yang mengguncang pasar global, Presiden AS Donald Trump justru memberikan sinyal bertubi-tubi.
Ia menegaskan tidak akan mengerahkan pasukan darat ke Iran, meskipun Pentagon diam-diam meminta dana raksasa sebesar US$200 miliar atau setara Rp 3.400 triliun untuk membiayai operasi perang.
Pernyataan kontradiktif ini muncul saat konflik memasuki fase kritis. Trump menyatakan kepada wartawan di Gedung Putih, “Saya tidak akan mengerahkan pasukan ke mana pun. Jika saya melakukannya, saya tentu tidak akan memberi tahu Anda.” Pernyataan ini sontak menjadi polemik, mengingat hanya dua hari sebelumnya ia mengaku “tidak takut” mengerahkan tentara di garis depan.
Perang Bayangan dan Hantaman ke Energi Global
Konflik terbuka meletus setelah tiga pekan lalu AS-Israel melancarkan serangan pertama ke wilayah Iran. Semalam, situasi meningkat drastis. Israel dan Iran saling menghujani situs-situs strategis.
Israel menargetkan kompleks pengolahan ladang gas alam South Pars milik Iran. Sementara itu, Qatar menuding Iran bertanggung jawab atas rudal yang merusak kawasan Ras Laffan International City, pusat energi utama Negeri Petro Dolar tersebut.
Akibatnya, pasar global gempar. Harga minyak sempat melonjak liar sebelum akhirnya sedikit terkoreksi. Kekacauan ekonomi inilah yang diduga menjadi alasan Trump mencoba meredam retorikanya.
Ia mengakui dampak buruk perang, “Saya benci menyerang Iran, tapi itu perlu. Ekonomi mungkin akan sedikit menurun, tapi ini akan segera berakhir,” ujarnya diplomatis, tanpa memberikan bukti atau timeline yang jelas.
Sinyal Perang Panjang: Dari Pulau Kharg hingga Situs Nuklir
Meski Trump mencoba meyakinkan publik, gerak-gerik militer AS menunjukkan persiapan perang besar-besaran. Permintaan dana Rp 3.400 triliun dari Pentagon menjadi bukti nyata.
Bayangkan, untuk enam hari pertama operasi saja, militer AS sudah menghabiskan US$11,3 miliar. Dana sebesar itu diproyeksikan untuk mendukung operasi tempur selama berbulan-bulan ke depan.
Lalu, untuk apa dana sebesar itu? Para analis militer menduga AS sedang mematangkan dua opsi operasi darat yang berisiko tinggi
1. Merebut Pulau Kharg: Pulau ini adalah arteri vital ekonomi Iran, tempat sebagian besar minyak negara tersebut dimuat ke kapal tanker. Menguasai pulau ini berarti mencekik ekspor minyak Iran.
2. Menyasar Fasilitas Nuklir Isfahan: Lokasi ini diduga menyimpan 970 pon bahan bakar nuklir kelas bom. Serangan ke fasilitas bawah tanah ini hampir mustahil dilakukan tanpa kehadiran pasukan darat.
Kedua target ini adalah red line yang jika dilanggar, bisa memicu perang regional total.
Kekuatan Militer Menggila di Timur Tengah
Washington tak hanya bicara uang. Mereka sudah menggerakkan pasukan. Sepekan terakhir, 2.500 Marinir dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dikerahkan dari kawasan Indo-Pasifik ke Timur Tengah.
Unit ini adalah spesialis operasi darat amfibi, didukung penuh oleh kekuatan laut dan udara.
Dengan tambahan ini, total personel AS di kawasan itu kini mencapai 50.000 tentara. Kehadiran marinir dengan kemampuan pendaratan cepat ini merupakan sinyal paling nyata bahwa serangan ke pulau-pulau strategis Iran yang biasa digunakan untuk meluncurkan kapal cepat pemasang ranjau di Selat Hormuz mungkin hanya tinggal menunggu waktu.
Trump boleh saja berkata tidak akan mengirim pasukan darat. Namun, dengan permintaan dana triliunan rupiah dan pergerakan marinir ke garis depan, dunia kini hanya bisa bertanya: Apakah ini negosiasi di ujung tanduk perang, atau justru detik-detik menuju invasi besar-besaran? (FD)