Bobby Ungkap ‘Bom Waktu’ Trauma Psikologis di Balik Kembalinya Siswa MBG Karo ke RS

KARO – Isu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo kembali mencuat dengan dimensi baru yang jauh lebih kompleks.

Jika sebelumnya sorotan tertuju pada aspek keamanan pangan dan medis, kini perhatian bergeser ke ranah yang lebih dalam kesehatan mental.

Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, mengungkap sebuah temuan krusial yang menjadi kunci di balik misteri kembalinya sejumlah siswa korban dugaan keracunan ke rumah sakit. Bukan karena racun yang tersisa, melainkan karena luka yang tak terlihat: trauma psikologis.

Fakta ini terungkap usai Bobby melakukan kunjungan empati ke RSU Efarina Berastagi dan RS Amanda Berastagi, Kamis (10/9/2026) malam.

Ia menjelaskan bahwa gejala fisik yang dialami para siswa saat ini ternyata adalah manifestasi dari tekanan mental yang belum pulih. Ini adalah plot twist yang mengubah narasi dari sekadar kasus keracunan makanan menjadi sebuah pelajaran berharga tentang betapa eratnya koneksi antara pikiran dan tubuh.

“Anak-anak yang menjadi korban keracunan sebelumnya ada yang kembali dirawat. Setelah diperiksa, pendekatan pengobatan yang dilakukan saat ini berbeda karena ada indikasi trauma psikologis,” ungkap Bobby dengan nada serius.

Awalnya, tim medis bergerak cepat dengan protokol standar. Dokter spesialis anak, saraf, hingga penyakit dalam dikerahkan untuk menangani gejala fisik.

Baca Juga : Bobby Nasution Jenguk Siswi Koma Di RS Haji Medan: 353 Siswa Keracunan MBG, Dapur Ditutup!

Namun, ketika keluhan yang sama kembali muncul pada siswa yang seharusnya sudah membaik, para ahli mulai mencurigai ada faktor lain yang lebih dalam. Sejak pekan ini, sebuah langkah progresif diambil: melibatkan psikolog klinis untuk mendalami kondisi para siswa.

Hasilnya sungguh mengejutkan. Pemeriksaan mengungkap bahwa sejumlah siswa mengalami trauma mendalam. Pemicunya adalah ingatan akan peristiwa keracunan itu sendiri. Dr. Andini, seorang psikolog anak yang terlibat dalam penanganan, menjelaskan,

“Otak anak-anak ini merekam peristiwa traumatis dengan sangat vivid. Ketika mereka mengingatnya, sistem saraf otonom mereka bereaksi seolah-olah kejadian itu sedang terulang kembali. Inilah yang memicu gejala fisik seperti pusing, mual, hingga kejang.”

Bobby menambahkan ada yang ketika mengingat kejadian itu kembali merasakan pusing, sakit perut, bahkan sampai kejang.

Karena itu pendekatan pengobatan sekarang juga difokuskan untuk mengurangi traumanya. Fenomena ini dalam dunia medis dikenal sebagai gangguan somatisasi, di mana stres emosional diekspresikan melalui keluhan fisik.

Kesadaran akan trauma psikologis ini menjadi pembeda utama dari pemberitaan di media lain. Jika media lain mungkin hanya melaporkan jumlah korban dan kondisi fisik, analisis ini menyoroti urgensi protokol kesehatan mental dalam setiap program yang melibatkan anak-anak.

Ini bukan hanya tentang MBG di Karo, tetapi tentang bagaimana negara harus hadir tidak hanya untuk menyediakan makanan bergizi, tetapi juga untuk memastikan keamanan psikologis para penerimanya.

“Kadang dianggap sudah sembuh, tetapi sakitnya muncul lagi karena faktor mental atau trauma yang masih ada,” tegas Bobby.

Pernyataan ini menjadi alarm bagi semua pemangku kebijakan. Program sebesar MBG harus memiliki sistem pendukung yang komprehensif, termasuk layanan konseling dan pemulihan trauma, jika terjadi insiden yang tidak diinginkan.

Hingga saat ini, sebanyak 24 siswa masih menjalani perawatan intensif. Rinciannya, 21 siswa di RSU Efarina Berastagi dan tiga siswa di RS Amanda Berastagi.

Satu siswa yang kondisinya memerlukan penanganan lebih lanjut telah dirujuk ke RSU Haji Medan. Langkah cepat ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menangani kasus ini secara serius.

Kasus ini memberikan pelajaran berharga bahwa pemulihan pasca-insiden tidak bisa hanya berhenti pada hilangnya gejala fisik.

Pendekatan holistik yang menyentuh aspek medis, psikologis, dan sosial menjadi harga mati. Pemerintah Provinsi Sumut di bawah kepemimpinan Bobby Nasution tampaknya mulai menyadari hal ini dan mengambil langkah yang tepat dengan melibatkan psikolog.

Ke depan, kita berharap kasus di Karo ini menjadi blueprint bagi penanganan insiden serupa di seluruh Indonesia. Jangan sampai trauma yang dialami anak-anak bangsa menjadi bom waktu yang menggerogoti generasi penerus.

Kesehatan mental adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan, dan sudah saatnya kita memperlakukannya dengan serius. (Rel)

#bobbynasution#KesehatanMentalAnak#kitamedandotcom#MakanBergiziGratis#MBGKaro#SumutUpdate#TraumaPsikologis#ViralNews